Kasus Lumpur Lapindo: Bola Beton Ide Siapa?

Coretan ini pindahan dari blog lama yang sudah tidak aktif *)

Pengantar:

Sejak lumpur lapindo “meletus” 26 Mei 2006, berita-berita tentangnya tak jarang (artinya: tak selalu) penulis monitor. Hingga suatu saat dari acara jalan-jalan “browsing” dan “searching”, penulis melintas di depan rumah maya “Hot Mud Flow in East Java“. Setelah melihat isi rumah sejenak (yang ternyata bagus & “gayeng” diskusinya), sejak saat itulah penulis menjadi pembaca setianya. Menjadi pembaca? ya…, karena menurut penulis masalah lumpur lapindo (untuk selanjutnya disebut dengan: Miss LULA ; ada juga yang menamai dengan: mBak LUSI / Lumpur Sidoarjo) ada di luar ranah disiplin ilmu yang penulis kuasai. Meskipun ada hubungan dengan masalah lingkungan/alam sekitar, namun nuansa geologinya lebih kental dan kentara. Sehingga di blog para geologis tersebut, penulis hanya memposisikan sebagai pembaca setia, untuk belajar (menambah wawasan dan ilmu) saja. Dan setelah punya blog sendiri, tak ada salahnya rumah tersebut di-link.

hdcb_lula-2.jpgTulisan ini bukan untuk mengulas Miss Lula tersebut secara teknis, namun dimunculkan akibat adanya pertanyaan yang berkecamuk di dalam diri penulis. Selama ini penulis hanya tahu, bahwa untaian bola beton / HDCB (High Density Chained Ball) itu maha karya para cendikia dari ITB. Sampai akhirnya, penulis membaca dalam sebuah harian Suara Merdeka edisi 22 Maret 2007 dengan judul: Gundah, Teknologi Bola Betonnya Belum Diakui.

Dari sini pertanyaan muncul, Siapa gerangan yang punya ide Bola Beton tersebut??? Betulkah ide itu bukan berasal dari ilmuwan???

ooOOOoo

Selanjutnya baca berita selengkapnya di bawah ini:

Gundah, Teknologi Bola Betonnya Belum Diakui


ALAT SELAM: Tito (kiri) bersama teknologi alat selam yang diciptakannya. (30)

SM/Sri Wahjoedi

 

hdcb_lula.jpgBERHENTINYA semburan lumpur panas Lapindo, meski hanya sekitar 35 menit pada Senin (19/3), tidak hanya membuat warga Sidoarjo, Jawa Timur dan sekitarnya gembira. Ada warga Solo yang juga merasakan kebahagiaan tersendiri.

”Ya memang saya merasa gembira sekali, meskipun semburan itu hanya berhenti 35 menit. Paling tidak teknologi seperti yang saya ciptakan itu, mampu menghentikannya, walaupun cuma sebentar,” ujar Yehezxiel Marcelino Tito Waseso, kemarin.

Tito Waseso adalah praktisi teknologi tepat guna yang menemukan teknologi memperlambat semburan lumpur tersebut. Yaitu dengan memasukkan bola-bola beton ke dalam pusat semburan lumpur panas.

Teknologi tersebut persis seperti yang digunakan tim nasional penanggulangan lumpur panas Lapindo di Sidoarjo, sebelum aktivitas semburan itu berhenti.

Meski gembira mendengar kabar semburan lumpur berhenti sesaat, dia masih merasakan kegundahan. Sebab temuannya itu belum diakui pemerintah. Malahan, dalam ekspose sebelumnya, teknologi itu diklaim sebagai rekayasa ilmuwan Institut Teknologi Bandung (ITB).

”Yang benar sajalah. Kalau memang itu temuan mereka, mengapa selama ini tidak ada jawaban kepada saya. Wong sebelumnya saya sudah menyampaikan temuan itu kepada Presiden. Pertengahan Agustus 2006, Pak Win (Win Hendarso, bupati Sidoarjo) juga sudah saya kirimi gambar temuan seperti itu,” katanya saat ditemui di bengkel tepat guna di Jalan Achmad Yani, Sumber, Solo.

Menurut dia, beberapa hari lalu ada staf Sekretariat Negara bernama Iwan, minta dikirimi data-data soal teknologi itu dan identitasnya. Namun belum ada jawaban lagi setelah dia memenuhi permintaan tersebut.

”Bagi saya yang penting ada pengakuan. Paling tidak itu wujud sumbangan saya terhadap masyarakat Sidoarjo atas musibah semburan lumpur panas,” lanjutnya.

Temuan Lain

Ditanya metode supaya semburan bisa berhenti dalam waktu lama dengan teknologi itu, Tito menyebutkan bola-bola beton diperbesar. Kalau selama ini hanya menggunakan bola dengan diameter 40 sentimeter, ia menyarankan bola diperbesar berdiameter 1,5-2 meter.

”Dengan bola lebih besar, bebannya juga lebih besar, dan masing-masing bola saling mengunci.”

Kegelisahannya soal teknologi yang diilhami dari ceritera Ketapel Goliath itu, ternyata tidak membuatnya surut untuk berkarya. Belakangan ini dia juga membuat temuan lagi. Alat selam tenaga matahari, telah diselesaikan.

”Alat ini bisa menggantikan peralatan untuk bernapas bagi penyelam yang selama ini menggunakan tabung oksigen,” tuturnya.

Praktik kerja alat itu memang sederhana. Sebuah penampang panel surya untuk mengolah sinar matahari menjadi tenaga listrik, dipasang di atas pelampung dari empat tabung logam bekas. Penampung solar cell itu menggerakkan dinamo DC.

Dinamo kemudian dihubungkan dengan kompresor yang menghasilkan udara. Selanjutnya udara itu disalurkan lewat selang yang bisa dihirup oleh penyelam.

”Secara teknis, biaya teknologi ini lebih ringan bila dibandingkan peralatan bernapas yang menggunakan tabung oksigen. Malah nantinya akan saya lengkapi dengan kincir agar alat itu bisa digerakkan saat berada di tengah laut,” tuturnya.(Sri Wahjoedi-60)

5 Tanggapan

  1. Pak saya punya senior di Ilmu Tanah, skrg ngambil S2 di Belanda dan dia ga pingin pulang lagi. alasannya karena ilmunya dia ga dihargain klo menetap di indonesia. baik itu dari segi materi dan pengakuan. saya ga nyalahin dia karena emang begitu kenyataan

    kemarin lalu di milistnya IAGI saya baca klo ada sekitar 1000an lebih orang indonesia yg ahli perminyakan kerja di luar negeri dan ga pingin pulang lagi. mentrinya bingung hehehehe….

  2. Ya.., menurut saya itu hak masing-masing, kerja di mana saja bebas yang penting halal. Boleh kan, mencari sesuap nasi di negeri orang? tapi jangan lupakan tanah air sendiri.

  3. Pak Faiq, Teknologi kami jauh lebih bagus dari yang bapak tampilkan… Sudah pernah Dengar Delta Qualstone? Check That Out at Metacafe.com

  4. @Hamdi: Saya sudah lihat video-nya, bagus juga…. karya yang inovatif. Tapi sepertinya fungsi dan prinsip kerjanya berbeda dengan Bola Beton, ya?

  5. Kasus Lapindo lebih besar daripada kasus bank century rakyat dan pemerintah dirugikan
    dana APBN dikurasmenjadi proyek abadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: