Musik Keroncong di Negeri Jiran

Coretan ini pindahan dari blog lama yang sudah tidak aktif *)

Telah dimuat di: Halamansatu.net

Anda peminat dan penikmat musik keroncong? Bagi anda penikmat musik keroncong, sudah jamak rasanya kalau telinga anda dimanja dengan sajian-sajian lagu keroncong di tanah air. Tapi, pernahkah anda membayangkan dapat menikmati musik keroncong secara khusus di negeri orang? Setiap hari lagi.

radiobest104.jpgSejak pertama kali menginjakkan kaki di Johor Malaysia ini, saya diberitahu oleh seorang kawan bahwa salah satu stasiun radio di Johor (konon kabarnya milik keluarga Sultan Johor) pada setiap malam dari jam 22.00 hingga jam 02.00 dinihari selalu menyajikan acara musik keroncong. Mulai dari keroncong asli maupun yang kombinasi (pop yang dikeroncongkan), dari lagu-lagu lama maupun baru, dari yang dinyanyikan penyanyi lama ataupun baru, dari Keroncong Kemayoran hingga Dinda Bestari, selama empat jam akan selalu mengudara. Adalah Johor Best 104 FM, radio yang setiap malam mengudarakannya.

Menurut mbah Wiki, Keroncong adalah sejenis musik Indonesia yang memiliki hubungan historis dengan sejenis musik Portugis yang dikenal sebagai fado. Sejarah keroncong di Indonesia dapat ditarik hingga akhir abad ke-16, di saat kekuatan Portugis mulai melemah di Nusantara. Keroncong berawal dari musik yang dimainkan para budak dan opsir Portugis dari daratan India (Goa) serta Maluku.

Malaysia, khususnya Negeri Melaka yang pernah dijajah Portugis, kemungkinan juga memiliki khasanah musik keroncong yang mungkin sama. Bahkan –kabarnya– Malaysia pun mulai mengembangkan musik keroncong ini, yang menurut kata pengantar di acara musik keroncongnya Best 104, diakui sebagai karya seni Nusantara. Namun kalau saya menyimak lagu-lagu keroncong yang diputar di Radio Best 104 tersebut, rasa-rasanya…, semuanya adalah lagu-lagu karya anak bangsa Indonesia. Saya sampai penasaran…, yang mana lagu keroncong aslinya Malaysia.

Selama dua setengah tahun telinga saya dimanja dengan musik keroncong di negeri jiran ini, timbul pertanyaan dalam hati, bagaimana ya…, perkembangan musik keroncong di Tanah Air?? Timbul kekhawatiran juga kalau-kalau musik keroncong di Indonesia akan mati dan hanya tinggal menjadi barang museum musik nasional kita. Sedangkan di Johor, tampaknya di-“uri-uri” oleh Sultan.

Namun ternyata kekhawatiran itu sirna dengan sendirinya, manakala secara tak sengaja dari browsing dan searching dengan keyword “keroncong”, saya menemukan jawabannya di tulisan sdr. Danny Baskara.

Semoga keberlanjutan musik keroncong yang berkembang dengan ciri khas tersendiri di Indonesia ini, tetap menjadi made in Indonesia dan dikagumi dunia internasional.

8 Tanggapan

  1. “Tapi, pernahkah anda membayangkan dapat menikmati musik keroncong secara khusus di negeri orang? Setiap hari lagi.”

    Bawa kaset dari rumah beres..hi..hi..

  2. @junthit: He…, he…., he… betul juga tapi bisa satu kopor penuh, wong lagunya mulai dari yang “antik” masih terdengar *Waljinah juga ada*. Kalau mau yang mp3?? wah masih mending nyetel radio aja…, komplit.

  3. Keroncong diselingi Campur Sari, duhhh nyamleng.

  4. luwihh jozz kalo blog ini menyajikan musik keroncong…. bukan hanya Rasan rasan…… Ok nggak…..!!

  5. @cakmoki: emmhhh… bener-bener nyamleng pak…😀
    @WarocK: Lha…. di sini khan cuma berbagi lewat tulisan…, bukan lewat musik.

  6. musik keroncong tetaplah menjadi ciri khas Indonesia tercinta dan tidak dimiliki oleh bangsa lain.

  7. ya ya… di festival keroncong internasioal minggu depan ini banyak dari negeri jiran yang bakal hadir, terutama dari Johor dah pada confirm

  8. @arman: Konon katanya cikal bakal musik keroncong berasal dari Portugis. RI & Malaysia pernah dijajahnya. Yaahh… sama-sama pernah dijajah Portugis…, berbagi dikit…, boleh ya???
    @JiwaMusik: Nhaa.. ntu… ada keroncong internasional segala… Makasih infonya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: