Susahnya cari Dokter pakar & terpaksa impor obat buat Faris

medis.jpgKetika kami akan boyongan ke Johor pada akhir 2004 lalu, sayapun konsultasi dan sekaligus pamitan dengan dokter yang merawat Faris, Dr. H. Rochmanadji, DSAK, MARS . Dengan berbekal surat pengantar dari beliau, data EEG, dan CT scan, serta obat-obatan yang harus diminum Faris, kamipun berangkat ke Johor. Harapannya adalah supaya treatment yang masih dijalani Faris, masih berlanjut dan terpantau oleh dokter pakar (spesialis) di Malaysia.

Begitu tiba di Johor, hari berikutnya saya ajak Faris ke Poliklinik terdekat. Malangnya di poliklinik itu tak ada obat-obatan seperti yang diresepkan. Tambahan lagi tak ada dokter spesialis, yang ada hanya dokter umum saja. Namun yang membuat hati ini sedikit lega, karena dokter yang saya ajak konsultasi mau melayani dengan baik. Hanya sayangnya, beliaupun tak tahu harus ke dokter mana saya ajak Faris konsultasi lebih lanjut. Di Johor Bahru ada juga dokter spesialis, namun kalau seperti yang diperlukan untuk menangani Faris, beliau tak tahu.

Secara iseng (meski sebetulnya dah tahu jawabannya), saya tanyakan apakah ada dokter spesialis yang buka praktek sendiri di rumah??

Kata beliau, “kalau hendak cari dokter pakar, ya harus pergi ke hospital pakar”.

Agaknya, di sini tak ada dokter yang berpraktek di rumah. Teringat sewaktu di Semarang, begitu mudahnya mencari dan memilih dokter umum ataupun spesialis yang berpraktek di rumah atau tempat praktek masing-masing.

Belum lagi masalah obat-obatan. Tahu tidak kalau di sini juga tak ada “apotek”?? betul…. di Malaysia ini memang tak ada apotek, yang ada adalah “Farmasi”. He… he… he… serupa tapi beda nama.

Nah, saya cari obat-obatan sesuai dengan resep yang saya bawa dari Semarang itu, apa yang terjadi?? Dua jenis obat yang saya cari (satu dalam bentuk sirup, dan satu lagi puyer), tak saya dapatkan. Satu lagi, di Malaysia sini tak dikenal obat-obatan dalam bentuk puyer. Wah kalau begitu, ahli farmasi/apotekernya masih lebih hebat yang ada di tanah air kita…..

Akhirnya, sayapun tetap konsultasi dengan Dr. Rochmanadji tiap dua bulan sekali lewat telepon (Terima kasih pak dokter, karena sudah digratiskan untuk konsultasi berkali-kali…), dan obat-obatan terpaksa diimpor dari Indonesia (titip kawan-kawan yang kebetulan sedang balik ke Semarang atau Yogyakarta).

Ah…, ternyata betul kata pepatah, “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya pula”.

oooOOOooo

3 Tanggapan

  1. sama dengan tetangga saya yang bekerja di negeri jiran.
    Beliau sakit asthma, jadi setiap 3 bulan keluarganya minta (beli ding) obat ke rumah (soale praktek di rumah), lalu dikirim via post.
    Moga Faris tetap sehat🙂

  2. Alhamdulillah, sudah satu tahun ini treatment dan obat-obatan rutinnya sudah selesai. Dan tampaknya kekuatan fisiknya sudah stabil. Trims doanya.

  3. Susah mencari dokter? Kunjungi lokadok. Cari dokter dengan cepat n mudah. http://www.lokadok.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: