“Wisata” MATEMATIKA

Wisata matematika?? mengapa tidak. Sebagaimana pelajaran lain yang kita senangi, matematikapun dapat kita jadikan sebagai sesuatu yang menyenangkan, bukan menakutkan. Mengapa begitu?? ya…, semua terpulang kepada sudut dan cara pandang kita.

Perlu diingat juga bahwa dalam matematika terkandung ilmu logika. Bagi orang yang “belum kehilangan akalnya” (maaf, baca: normal), dia pasti mempunyai logika yang normal sesuai tingkatan masing-masing. Jika logika dia bekerja, tentu pemahaman matematika dia juga akan bekerja sesuai tingkatan tersebut. Kalau begitu semua orang berakal menguasai matematika?? Ya, dengan tingkatan masing-masing. Untuk itulah postingan ini saya munculkan…, minimal merubah sudut pandang kita terhadap si “momok” matematika, karena pada dasarnya kita semua menguasai memahami matematika.

Tulisan ini didasari ketertarikan saya yang ‘dipicu’ oleh tulisan pak deking dalam blognya yang berjudul “Kenapa bentuk bumi katanya seperti bola? (suatu tinjauan Matematis). Postingan tersebut menjelaskan bentuk bola dunia dipandang dari sudut seorang matematis. Saya jadi teringat pada ucapan seorang profesor matematik dari India (maaf… lupa namanya) dalam sebuah konferensi di PWTC Kuala Lumpur tahun 2006 yang lalu. Kata beliau, bahwa matematika dapat mensimulasikan hampir semua ( bahkan mungkin: semua) peristiwa alam.

Sebagai contoh, rumus matematika (dengan barisan “cacing-cacingnya”/integralnya) dapat mensimulasikan aliran gelombang yang berjalan dari tengah laut menuju ke tepi pantai. Simulasi itu tampak lebih indah bila dibuat dalam 3 dimensi. Hasil akhirnya terlihat sangat menakjubkan, meskipun awal prosesnya ternyata sangat “memendhemkan”.

Bahkan dari metematik ini, ada seorang ilmuwan yang meraih gelar master setelah dia mensimulasikan aliran air turbulen dalam closet/WC jongkok pada saat proses penggelontoran **sepertinya kurang kerjaan…he..he…he..**. Tentunya ilmuwan tersebut meraih master dalam bidang model matematik atau programing, bukan master dalam bidang WC jongkok.

Menjelaskan ke-maha-dulu-an (Qadim-nya) Tuhan pun dapat dianalogikan dengan matematik/logika. Contohnya adalah satu ceritera diskusinya Imam Abu Hanifah dengan seorang atheis, seperti berikut:

Atheis : Pada tahun berapakah Rabbmu dilahirkan?

Abu Hanifah : Allah berfirman: “Dia (Allah) tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan”.

Atheis : Masuk akalkah bila dikatakan bahwa Allah adalah yang pertama dan tidak ada sesuatu sebelum-Nya?, Pada tahun berapa Dia ada?

Abu Hanifah : Dia (Allah) ada sebelum adanya sesuatu.

Atheis : Kami mohon diberikan contoh yang lebih jelas dari kenyataan!

Abu Hanifah : Tahukah tuan tentang perhitungan?

Atheis : Ya.

Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka satu?

Atheis : Tidak ada angka (nol).

Abu Hanifah : Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang mendahuluinya, kenapa tuan heran kalau sebelum Allah Yang Maha satu yang hakiki tidak ada yang mendahului-Nya?

Nah, itu satu gambaran indahnya atau nikmatnya belajar matematika bagi yang “mudheng”, dan di sisi lain mendhemnya belajar matematika bagi yang “nggak ngeh”. Namun tetap itu bisa dijadikan wisata **pokoknya tetep ngeyel**.

Kuncinya?? Nikmatilah sampai batas pemahaman masing-masing. Seperti halnya sekelompok orang pendaki gunung, maka bagi beberapa orang yang bisa mencapai puncak gunung, bagilah ceritera keadaan puncak yang indah kepada peserta yang hanya mampu sampai di atas bukit. Sedangkan bagi yang hanya mampu memandang dari kaki bukit, ambillah foto gunung tersebut dari sisi yang terindah….

Akhirnya, marilah kita nikmati saja metematika itu sebagai hal yang menyenangkan, bukannya kita takuti sehingga tampak membosankan.

oooOOOooo

 

13 Tanggapan

  1. Aku kok belum bisa menikmatinya ya

  2. Wisata yang indah bukan?

  3. Terlepas dari pembuktian matematis oleh Dekin, yang saya tahu (dari “Earth Science”), bahwa bumi itu tidak diasumsikan seperti bola, tetapi “pepat”. Dalam earth science, “pepat” ini dinamakan elipsoid oblat. Bentuk elipsoid inilah yang menyebabkan aphelium dan perihelium (jarak terdekat dan terjauh bumi dari bulan). Matematika (lebih khususnya kalkulus dan persamaan diferensial) di sini digunakan sebagai alat bantu untuk menghitung dan mengukur. Inti dari matematika adalah pengukuran, atau meng-kuantifikasi sesuatu yang sebelumnya hanya punya kualitas. “Baik-buruk” sulit diukur, jadi diperlukan persentase seberapa baik atau seberapa buruk.

    Meski “wisata” (seperti artikel saya beberapa bulan lalu di blog, halaman satu, di milis migas Indonesia berjudul “Wisata ke Finite Element Method”) barangkali sedikit me-negasi-kan kenyataan ilmu itu; pada dasarnya matematika dan sains sendiri despotik. Mereka memilih pembaca dan mensyaratkan pembacanya untuk cerdas dan tekun. Wisata kurang asyik jika tanpa uang yg cukup dan tujuan yg jelas; likewise, matematika kurang asyik jika tanpa modal kecerdasan, ketekunan dan tujuan yg jelas.

    Salam kenal Mas Faiq

  4. @ Kangguru
    He…he….he sepertinya untuk bisa menikmatinya, yang pertama dilakukan adalah mencintainya lebih dulu. Cintailah apa adanya… *halah*

    @ Mathematicse
    Ya…, bagi yang sudah bisa menikmatinya. Bagi yang belum, buruan..

    @ Arief
    Sama-sama mas Arief. Terima kasih masukannya dan kunjungannya, saya keduluan nih… Tapi saya sudah sering lewat dan mampir sebentar di blog sampeyan.

  5. Sekali-kali anda barangkali bisa menceritakan excerpt dari riset S3 anda di Malaysia. Apakah membuat model matematika untuk memecahkan problem dalam keilmuan anda? (Teknik Lingkungan? Sipil?)

    Riset saya menggunakan model fisik (skala lab) jadi tak terlalu mumet mikir numerik. Hanya saja sebenarnya saya masuk sipil untuk menghindari kimia (ini yang momok bagi saya)…, nah… sekarang malah ketemu di sini… he…he…he…
    Kalo cerita riset ada di blog satunya: http://faiqun.edublogs.org/ tapi sorry aja kalau ternyata “My English is amburadul” ….

  6. Abu Hanifah : Angka berapa sebelum angka satu?
    Atheis : Tidak ada angka (nol)

    Ko atheisnya ga tahu apa oon…??? masa jawabannya tidak ada angka…ya nol, -1, -2, dst dong…itu kalo dalam bilangan Real, berbeda kalo dalam bilangan bukan Real karena hanya bilangan real lah yang memiliki sifat urutan.

  7. Makasih dah mau mampir duluan…, tapi maaf tak ada jamuannya. Banyak maaf pak.
    Halah… pak guru ini mau nge-test aja…., padahal beliau sebenarnya dah tahu kalau angka berbeda dengan bilangan. Sedangkan angka hanya ada sepuluh ‘digit’ dari 0 s/d 9, yang lainnya adalah pengulangan. **Yen ora salah…**

  8. Thanks Mas Faiq. Wah banyak sekali publikasi sampeyan! English-nya excellent. Waste-water technology itu ilmu yg paling banyak manfaatnya dewasa ini.

    Sama dg sampeyan, saya ya angkat tangan kalau kimia; dulu SMA betah duduk di kelas dengerin kimia soalnya gurunya ayu pol hahaha ….

    Selamat riset!

  9. Tapi kadang kalanya kita tidak bisa mengunakan logika ketika apa yang kita omongkan itu berada di luar jangkauan nalar kita kan?……
    bahkan ada juga orang yang tidak mau berpatokan dengan logika?…..

  10. @Arief: Terima kasih, itu semua atas karunia Allah. Yang sekarang saya masih penasaran dan cari adalah literatur agama tentang bagaimana pandangan agama bila ada air limbah sudah diolah (sudah tidak berbau, tidak berwarna/jernih, tidah berubah rasa/seperti “fresh water”), apakah boleh langsung dipakai (suci mensucikan) ataukah harus dibuang dulu ke sungai (alam) lebih dulu. Siapa bisa bantu???

    @Zainuri: Ya betul, pak. Memang ada sesuatu yang tak bisa dinalar, tetapi mungkin masih bisa untuk dirasa dengan naluri. Orang yang tak mau berpatokan dengan logika, pada dasarnya mereka secara tak sadar sudah pakai logika juga. Buktinya, saat mereka jual beli, merekapun berhitung pula. Sesuai atau tidakkah nilai barang yang dijual-beli tsb. Itu juga bagian logika khan pak??

  11. oooooooooo … baru ketemu, mas faiq toh yang nulis cerita abu hanifah itu… temen2 buletin math dikampusku pernah menulisnya di edisi mei kemarin.

  12. @Little: Ya, ini blog saya, alamat blog anda mana? BTW, cerita itu saya sadur dari website-nya al mihrab. Wah jadi ingin ikut baca nech bulletinnya. Online tidak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: