Turis Indonesia Tak Aman di Malaysia?

Di tengah-tengah gencarnya Malaysia mempromosikan “Tahun Melawat Malaysia 2007” (Visit Malaysia Year 2007), muncul berita dan kejadian yang tak mengenakkan, khususnya bagi para wisatawan Indonesia. Berita tersebut dilansir oleh harian Serambi Online pada tanggal 16 April 2007 yang baru lalu, berjudul “Turis Indonesia Makin Tidak Aman di Malaysia“. Berita ini dipicu oleh tindakan over acting dari Polisi dan Rela yang akhir-akhir ini kerap mengadakan pemeriksaan terhadap pendatang asing berkaitan dengan dokumen perjalanan atau paspor (baca juga di sini).

Rela (Angkatan Relawan Negara) yang didirikan 1 januari 1972 merupakan sebuah organisasi sukarelawan yang didirikan dengan tujuan awal untuk membantu polisi dan tentara menangani anasir subversif, menjaga keamanan dan keselamatan Malaysia.

Namun Rela kini diminta bantuan Departemen Dalam Negeri dan Imigrasi Malaysia menangani pekerja asing yang ilegal. Anggota Rela kini mencapai 470.550 orang. Setiap berhasil menangkap pendatang atau pekerja asing ilegal, pemerintah memberikan insentif selain gaji bulanan. Oleh sebab itu, Rela sering melakukan operasi pemeriksaan, dan kadang-kadang sikapnya “over acting”. Saking over acting-nya, seringkali pemeriksaan dilakukan atas dasar kecurigaan, tidak manusiawi, dan tidak selektif. Pendatang asing yang terjaring dan kebetulan tidak membawa paspor akan langsung ditahan selama tiga hari dua malam di sel tahanan Polisi atau Rela.

Saya teringat pada akhir tahun 2004 lalu, ketika gencar-gencarnya dilakukan pemeriksaan terhadap pendatang haram. Waktu itu saya melihat dalam berita di TV, pendatang asing (kebanyakan TKI) yang terjaring dan tidak bisa menunjukkan dokumen perjalanan yang sah dikumpulkan beramai-ramai dan dalam posisi berjongkok dengan kedua tangan di atas kepala persis seperti pesakitan. Sungguh tidak manusiawi.

Nah, bagi saudara-saudara di Tanah Air yang sedang melancong atau baru menyusun agenda pelancongan ke Malaysia, jangan sampai terlupa bawa paspor bila sedang ada kegiatan di luar hotel meskipun hanya akan pergi makan di kedai makan dekat hotel. Hati-hati, Polisi dan Rela mengincar setiap saat. Ini bukan ancaman provokasi ataupun menakut-nakuti, tetapi peringatan untuk selalu waspada. Bagaimanapun kita juga punya MARTABAT (maruah, kata orang Melayu).

Dan lagi, jangan mau disebut sebagai INDON (kependekan dari Indonesia), karena arti kata-kata tersebut berkonotasi mengejek atau menghina. Dan memang tak ada nama negara INDON di dunia ini, yang ada hanyalah INDONESIA. Kalau ada yang bertanya, “Awak (kamu) dari Indon?” Katakan dengan sedikit penegasan,” Bukan, saya dari INDONESIA. Setahu saya tak ada negara INDON di dunia ini, Tuan”.

Untuk Malaysia, buktikan bahwa kita tetap bisa menjadi jiran-tetangga yang saling menghormati. Katanya saudara serumpun……..

oooOOOooo

9 Tanggapan

  1. lah di malaysia, asal bawa dokumen lengkap tak jadi masalah (jangan lupa semua dokumen diphoto copy min 2 examplar : 1 ditinggal di RI, 1 ditinggal di hotel/penginapan).

    di indonesia yg dokumennya lengkap aja masih hrs bayar polisi di mana-mana. contoh: anakku (wn prancis) dgn KITAS Imigrasi Jakpus (sudah ada kartu dr Mabes Polri), setiap aku bawa berkunjung ke rumah ortu/saudara pasti didatanggi polisi. sempat aku ribut, tapi krn ortu tak mau ribut terpaksa mereka bayar (tanpa tanda bukti pembayaran) rp. 100rb/bulan.

    di indonesia lebih gila lagi dr malaysia.

  2. Waduh… jangan marah lho mbak.., bener bukan saya itu yang minta…. sure, sumpah, gila kali ya kalo aku yang minta…. he..he..he…
    Lha, wong saya dulu waktu balik saja, di imigrasi Cengkareng dimintai “oleh-oleh” kok…, piye jal… heran aku…
    Tapi bagaimanapun aku tetap cinta Indonesia… soale… tak bisa ke lain hati… *halah.., brubut… mlayu…*

  3. Kalau Mbak Juliach mau berkunjung ke Indonesia tinggal kasih tahu saya saja…
    *Nanti saya yang mengganikan polisi untuk melakukan pungli* hehehehe…

  4. Ganyang malaysiaa..!!!

    *maaf saya suka panas kalau baca berita tentang negara itu*

  5. Belum rezeki mengunjungi Malaysia, mudah2an turis2 Indonesia aman2 aja lah ke depannya.. ada upaya perbaikan barangkali?

  6. nanti dech akan saya adakan studi banding dulu hehehehhe

  7. Waduuuuhh…besok saya mo ke malaysia jadi ragu-ragu nih…
    Gimana ya…??
    Ah mendingan ngajar lagi aja deh di Indonesia ha ha ha

  8. 🙂 mmg bener org Malaysia suka bilang org Indonesia itu Indon…sudah dibiasakan berkata begitu dlm masyarakat yg dulunya satu ejekkan skrng nga lg tp masih nga elok didenger (org malaysia masih nga sedar ini semua bahawa “Indon” tu nga enak didenger oleh anak Indonesia)…saya sendiri nga pernah bilang org Indonesia itu Indon krn saya juga berhati panas kapan mendengernya walau saya ini warga Malaysia. Jika teman2 saya berkata “Indon” dgn pantas saya akn menegurnya dan memperbetulkannya. Saya anak Malaysia dan Indonesia (asalnya keluarga ayah-Jawa Barat). Ttg Imigrasi di mana2 tpt sama aja yg pasti dokumen itu harus lengkap. No problem.

  9. Terima kasih sudah bertamu di rumah maya ini dan juga atas apresiasi positif dari anda. Memang sebutan “Indon” bagi kami terdengar sebagai hinaan,sehingga kamipun tak segan-segan menegur jika mendengar sebutan tersebut. Tak kira siapa yang mengucapkannya. Kebanyakan kawan pelajar Malaysia tak menggunakan istilah itu. Jika ada satu dua yang mengucapkan demikian (karena tak faham maksudnya dan hanya ikut-ikutan saja), maka setelah kami bagi tahu, merekapun segera minta maaf.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: