Bumi yang Makin Panas

Tulisan tentang “panas-memanas ini”, 200% dijamin tak ada hubungannya dengan bumi/dunia blogosphere yang akhir-akhir ini juga baru memanas akibat “perang saudara”. Sesuai kemampuan dan kapasitas saya yang terbatas, saya memang membatasi diri tak ikut terjun ke dalam situasi memanasnya dunia blogosphere Indonesia. Baik itu dalam media komentar, apalagi dalam bentuk tulisan postingan. Takut nantinya malah ikut memperkeruh suasana, bukannya membantu menjernihkan. Tautan di atas itupun tak ada maksud apapun, kecuali sebagai pengingat diri, siapa tahu terdapat hikmah di balik peristiwa itu.  Jadi…, tulisan ini memang murni membahas tentang pemanasan global di bumi “nyata” yang kita pijak, bukan di “bumi” maya……..

—ooOoo—

world-1.gif

Peringatan hari bumi 2007 yang mengusung semboyan/tema “Selamatkan Hutan dengan Tanganmu”, baru seminggu berlalu. Gaungnya masih terasa. Melihat pada tema yang dibawanya, mungkin di antara kita timbul pertanyaan mengapa hanya ingin menyelamatkan hutan saja? Tidakkah lebih penting dan bermanfaat jika kita bisa menyelamatkan seluruh aspek kehidupan? Harapan yang senada, diutarakan juga oleh sdr. Alle salah seorang kawan blogger dalam komentarnya di sini.

Namun bila kita bisa menilik lebih dalam, maka sebetulnya pada tema itu mengandung makna yang sangat dalam. Bukankah hutan merupakan paru-paru dunia? Bukankah hutan dapat menetralisir gas CO2 yang saat ini ditengarai sebagai salah satu penyebab bumi menjadi semakin panas (global warming)? Dan bukankah saat ini kerusakan hutan akibat pembalakan liar dan kebakaran menjadi isu yang paling utama? Kerusakan hutan bukan hanya menjadi masalah dan tanggung jawab satu negara saja, melainkan sudah menjadi masalah dan tanggung jawab seluruh dunia.

Gas Rumah Kaca

GlobalWarming 2060

Bumi yang semakin panas atau dikenal dengan pemanasan global (global warming) adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Penyebab utama pemanasan ini konon katanya adalah karena pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepaskan karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Simak lebih lanjut di wikipedia.org.

Masih menurut wikipedia, permukaan Bumi akan memantulkan kembali sebagian dari panas matahari sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar; walaupun sebagian tetap terperangkap di atmosfer Bumi. Gas-gas tertentu di atmosfer termasuk uap air, karbondioksida, dan metana, menjadi perangkap radiasi ini. Gas-gas tersebut akan menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca sehingga gas-gas ini dikenal sebagai gas rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

ghouse effect

normal-condition.gif global_warming.gif

a. Kondisi normal. ——————————– b. Global Warming.

Menyadari betapa pentingnya permasalahan ini, maka di awal tahun 2007 yang baru lalu para politisi dan ilmuwan dunia mengadakan pertemuan di Washington. Pertemuan selama 2 hari itu diikuti oleh negara G8 dan beberapa kekuatan ekonomi baru, seperti Brasil, Cina, India, Meksiko, dan Afrika Selatan. Para delegasi pertemuan tersebut akhirnya mencapai kesepakatan baru dalam mengatasi perubahan iklim. Mereka berharap negara-negara berkembang akan mencapai target dalam mengurangi gas efek rumah kaca, sama seperti negara-negara maju (baca di sini).

Efek Pemanasan Global

Sekarang ini banyak ilmuwan yang meneliti mengenai dampak pemanasan global terhadap lingkungan dan kehidupan makhluk hidup. Penelitian dilakukan dengan pengambilan data di lapangan hingga ke pembuatan model matematik. Para ilmuwan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil.

Seperti diketahui, di Kutub Utara dan Selatan terdapat dua jenis, yaitu es musiman, yang terbentuk saat musim dingin tiba, dan es abadi, yang tebal dan tidak mencair sepanjang tahun. Namun penelitian selama 10 tahun terakhir menunjukkan penurunan dramatis dalam es abadi. Sementara itu laju mencairnya es musiman di kawasan Artik juga semakin meningkat saja dalam satu dasa warsa terakhir ini. Para ilmuwan mengatakan peningkatan suhu yang disebabkan oleh peningkatan C02, karbon dioksida, di atmosfir bumi yang menjadi penyebabnya.

Dan kedua daerah ini sangat vital dalam menjaga agar planet tetap dingin karena es di kutub menjadi perisai bumi dalam menangkis 90% sinar matahari yang menimpa bumi, dan mengembalikannya ke angkasa luar. Tetapi kalau es di kutub mencair maka 90% panas sinar matahari akan diserap lautan dan semakin meningkatkan pemanasan global (BBCIndonesia.com).

Banyak orang membayangkan lautan biru dengan air hangat sebagai sebuah gambaran laut yang ideal. Dan menurut ilmuwan kelautan, gambaran laut yang hangat itu akan mudah kita jumpai dalam 100 tahun mendatang. Tetapi itu jelas bukan berarti berita baik untuk lingkungan karena lautan biru itu muncul disebabkan pemanasan global yang membuat laut menjadi terlalu panas bagi ikan, atau terlalu beracun untuk hewan laut. Lautan yang makin panas itu juga mungkin sudah tidak mampu lagi untuk menyerap Karbon Dioksida (CO2) dari atmosfir bumi.

Dibawah permukaan air laut, ada gelombang atau mungkin lebih tepat disebut aliran arus laut, yang oleh para ilmuwan disebut sebagai Sabuk Laut. Fungsi sabuk laut ini adalah mendorong air laut, yang sudah dipanaskan oleh matahari di wilayah tropik, ke daerah yang lebih dingin di kutub. Proses sebaliknya juga terjadi, yaitu air dingin di Artik dan Antartika dibawa ke daerah tropik untuk dipanaskan.Arus Atlantik Utara lebih dikenal dengan sebutan arus Teluk, dan yang dikuatirkan para ilmuwan adalah pemanasan global akan memperlambat arus itu. Bahkan mungkin akan menghilangkan sama sekali arus perpindahan air tersebut. Selain itu masih ada kekuatiran lainnya, yaitu peningkatan keasaman laut, dan terumbu karang adalah yang paling rentan menghadapi peningkatan ini (BBCIndonesia.com).

Usaha Menangkap Gas CO2

Pemerintah Indonesia akan menghidupkan kembali sebagian Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektar, yang sempat terbengkalai. Lahan gambut amat penting karena kemampuannya dalam memproses gas yang menyebabkan efek rumah kaca, seperti CO2 dan metan. Menurut LSM konservasi lingkungan, Wetlands International, sekitar 48% lahan gambut di Indonesia sudah dirusak, dan sebagian besar pengrusakan disebabkan penebangan hutan liar. Masalah pengrusakan hutan gambut di Kalimantan merupakan salah satu kehancuran lingkungan terbesar dunia. Dari pembersihan sampah dalam penebangan liar di lahan gambut saja, Indonesia menghasilkan 632 juta ton CO2 setiap tahunnya (BBCIndonesia.com).

Selain itu Detik.com dalam beritanya (27/4/2007) menuliskan bahwa Indonesia dalam upaya mencegah perubahan iklim ini, berusaha akan menangkap gas CO2 dan menyimpannya. Dengan bantuan Norwegia, Indonesia akan mempelajari penerapan ke arah itu. Selain itu, masih menurut Detik.com, Belanda-pun mempunyai wacana dan rencana yang sama untuk menangkap dan menyimpan CO2. Namun sepertinya masih diperlukan banyak penelitian untuk itu. Seperti diakui oleh Belanda, diperlukan waktu sekurangnya 7 atau 8 tahun sebelum CO2 betul-betul dapat ditangkap dan disimpan. Kendala yang dihadapi sampai sekarang, biaya instalasi penangkap CO2 masih relatif tinggi.

Kalau negara Belanda saja mengakui biaya instalasi penangkap CO2 masih relatif tinggi, bagaimana dengan Indonesia??

—-OOO—-

Sumber tulisan dan gambar:

  1. http://id.wikipedia.org/
  2. http://www.detik.com/
  3. http://www.bbc.co.uk/
  4. http://www.nasa.gov/
  5. http://www.ucsusa.org/
  6. http://www.grassrootsmedia.org/

oooOOOooo

8 Tanggapan

  1. Semua tetap berawal dari sikap dan keserakahan manusia juga, akhirnya rugi sendiri dech

  2. Yap…. setuju. Kerusakan di muka bumi ini hampir semuanya disebabkan ulah tangan manusia yang tak mampu menjadi khalifah di bumi ini.

  3. pemanasan global yang terjadi di dunia itu di sebabkan oleh ulah manusia yang hanya ingin mementingkan kebutuhannya,sehingga berbagai teknologi di kembangkan tanpa memikirkan dampaknya bagi mhluk hidup dan bumi ini.yang saya harapkan agar kita dapat mencari energi energi baru yang ramah lingkungan.ok

  4. Saya yakin jika semua manusia mengerti tentang efek global panas, maka kita akan bisa selamtkan alam semesta. Ayo kita rame-rame mempertahankan hutan kita!!! Setidaknya melalui tulisan kita kampanyekan anti penebangan hutan. Anda telah berpartisipasi dalam rangka Save our earth.

  5. Semuanya sudah menjadi jawaban bagi setiap hati yang tak pernah mengasihi Tuhannya sendiri dengan sepenuh hati.Panasnya bumi berawal dari panasnya hati dengan keserakahan yang ada dan selalu yang meluas.Kasih karunia Tuhanlah atas bumi ini…
    Amin.

  6. @Raflen: Mari kita praktekkan “Pembangunan yang berwawasan lingkungan”. Jangan hanya sebagai slogan saja.

    @Harryfakri: Setuju…. Mari rame-rame merawat dan mempertahankan hutan kita demi anak cucu…

    @Wikky: Kita perangi pula semua bentuk keserakahan, minimal dari diri kita masing-masing…

  7. intinya mulailah dari diri sendirikan?

    Yap…, betul. Setujuh… eh, setuju sekali. 😀😆

  8. kata orang awam nich, kita mungkin tidak bisa menghindari, akibat bertambahnya makhluk hiduf, bertambah pula kebutuhannya,seiring dengan perkembangan teknologi, maka alhasil perubahan suhu akan meningkat akibat tidak adanya keseimbangan pemanfaatan dan pengembangan alam……….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: