Mengintip Malaysia Membangun Pendidikan Dasarnya

Mencermati tulisan sdri. Purwati berjudul “Pembangunan Pendidikan Nasional” (SM 2/5/07) memberikan gambaran seberapa jauh keberhasilan pendidikan di negara kita tercinta. Tulisan tersebut mengulas tentang adanya keterkaitan keberhasilan pendidikan terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Wajib belajar sembilan tahun yang dicanangkan pemerintah sebagai pendidikan dasar, ternyata belum menuai hasil yang menggembirakan. Tulisan sdr. Hariyanto Imadha berjudul “Oemar Bakrie dan Oemar Badroen” (Jawa Pos, Opini 5/5/07) adalah salah satu bukti dan potret keseharian pejuang pendidikan kita. Pertanyaannya adalah apakah jika sudah digelari “pahlawan tanpa tanda jasa”, maka kesejahteraannya menjadi tak terpikirkan lagi?

Pendidikan, secara umum menjadi tangung jawab negara. Konstitusi membebankan tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan nasional kepada pemerintah. Tetapi kenyataannya, kinerja negara dalam mendukung pendidikan dasar adalah masih rendah. Hal ini terbukti masih banyaknya potret buram dunia pendidikan dasar kita, dimulai dari gedung Sekolah Dasar yang sudah tak layak pakai, roboh, sampai kepada kesejahteraan para guru yang belum memadai.

Kritik terhadap pembangunan dunia pendidikan kita sudah banyak diulas, dibicarakan, ditulis, dan diseminarkan. Namun solusi yang jitu belum dirasakan, bahkan solusi yang diambil lebih berkesan “trial & error”. Ganti menteri, ganti percobaan. Tuntutan 20% anggaran pendidikan pun rasanya susah didapatkan.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengajak para pembaca untuk melihat lebih dekat sistem pendidikan dasar di Malaysia, sebagai suatu perbandingan.

Pendidikan Dasar di Malaysia

Pada era tahun 70an sampai 80an keadaan pendidikan di Indonesia masih di atas Malaysia. Orang Malaysia datang belajar ke Indonesia. Bahkan beberapa guru dari Indonesia diperbantukan mengajar di Malaysia. Sekarang pendidikan di Malaysia termasuk yang paling baik di dunia, tetapi Indonesia malah terkesan berjalan di tempat. Tambahan lagi sekarang biaya pendidikan sudah mulai menjadi di luar jangkauan kebanyakan masyarakat di Indonesia.

Sistem pendidikan di Malaysia disusun berdasarkan pada Sistem Pendidikan Inggris. Pendidikan rendah atau pendidikan dasar di Malaysia dimulai pada kanak-kanak usia 7 – 12 tahun (pendidikan dasar 6 tahun). Wajib belajar (pendidikan wajib) di Malaysia diterapkan dan dilaksanakan mulai tahun persekolahan 2003.

Pendidikan wajib adalah satu peraturan yang mewajibkan setiap ibu bapak warganegara Malaysia (yang menetap di Malaysia) yang mempunyai anak mencapai umur enam tahun mendaftarkannya di sekolah rendah (pendaftaran murid biasanya dilakukan 1 tahun sebelum masa persekolahan).

Kegagalan ibu bapak memastikan anaknya mengikuti pendidikan wajib merupakan satu kesalahan dari segi undang-undang, dan jika terbukti di pengadilan, ibu bapak berkenaan akan dikenakan denda maksimal RM 5000 atau dipenjarakan maksimal 6 bulan atau kedua-duanya sekali.

Ada peraturan yang mewajibkan, ada pula sangsi bagi yang melanggar. Namun negara juga mendukung sepenuhnya pembangunan di bidang pendidikan. Fasilitas, sarana dan prasarana serta kesejahteraan guru diperhatikan.

Biaya Pendidikan Dasar

Orang tua murid dikenakan membayar iuran sekolah yang dibayarkan pada awal tahun ajaran baru. Besarnya iuran yang dipungut oleh pihak sekolah berkisar antara RM 50 hingga RM 75 pertahun (Rp. 125.000 – 187.500/tahun) tiap siswa. Iuran tersebut dirinci untuk pembayaran asuransi, biaya ujian tengah semester & semesteran, iuran khas, biaya LKS, praktek komputer, kartu ujian, file data siswa & rapor.

Khusus untuk sumbangan PIBG (Persatuan Ibu Bapak dan Guru) hanya dipungut satu bayaran untuk satu keluarga. Jadi untuk keluarga yang menyekolahkan 1 anak atau lebih, dikenakan bayaran yang sama yaitu RM 25/keluarga. Dan untuk siswa kelas enam ditambah biaya UPSR sebesar RM 70. Selain itu tak ada pungutan lain, termasuk pula tak ada pungutan sumbangan dana pembangunan. Pembangunan dan renovasi gedung sepenuhnya menjadi tanggungjawab kerajaan/pemerintah.

Buku teks atau buku pegangan yang digunakan siswa relatif tak berganti atau sama setiap tahun. Bila orang tua murid membeli semua buku teks dan aktifiti, harganya berkisar antara RM 80 – RM 125/siswa pertahun. Itupun hanya sekali beli untuk anak sulung saja. Karena untuk keluarga yang mempunyai anak lebih dari satu, buku teks tersebut dapat dipakai bergantian “turun temurun”. Khusus untuk keluarga dengan pendapatan kurang dari RM 2000/bulan, dapat mengajukan permohonan kepada pemerintah untuk peminjaman buku teks yang disediakan dari sekolah.

Suatu biaya pendidikan yang terbilang relatif murah untuk negara dengan pendapatan rerata per keluarga sebesar RM 2500/bulan atau setara dengan Rp. 6.250.000/bulan (Data 2003, Kementrian Kewangan Malaysia). Lebih-lebih lagi, mulai tahun persekolahan 2008 mendatang pemerintah merencanakan untuk meminjamkan semua buku teks kepada para siswa sekolah rendah tanpa kecuali. Praktis, orangtua murid tidak lagi terbebani untuk membeli buku teks.

Update, Januari 2008: Pemerintah/Kerajaan Malaysia, betul-betul memenuhi janjinya. Mulai tahun ajaran 2008 ini, semua siswa Sekolah Rendah warga tempatan (warga Malaysia) mendapatkan peminjaman buku teks yang disediakan oleh Pemerintah melalui sekolah masing-masing.

Peran Pemerintah

Kurikulum pendidikan yang ditetapkan oleh Kementrian Pelajaran Malaysia, relatif stabil. Kurikulum yang digunakan di Sekolah Rendah Malaysia disebut dengan Kurikulum Baru Sekolah Rendah (KBSR). Dari data Kementrian Pelajaran Malaysia, KBSR mulai diujicobakan tahun 1982 di 302 buah sekolah rendah. Sejak tahun 1988, pelaksanaan KBSR sepenuhnya dicapai dan hingga tahun 2007 ini masih dipergunakan.

Penulis tidak menemukan data resmi yang menjelaskan tentang perubahan kurikulum dari KBSR menjadi kurikulum lainnya. Selain dalam buku teks untuk sekolah rendah tahun 2007 tertulis: disusun berdasarkan KBSR yang disemak-ulang/direvisi. Revisi terakhir dilakukan pada tahun 2005, dimana mata pelajaran Sains dan Matematika menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris.

Kesejahteraan guru? Gaji guru di Malaysia berkisar di atas RM 1000 (>Rp 2.500.000), yang hampir setara dengan gaji profesor (golongan IV/e) di negara kita. Meskipun juga banyak keluhan dari para guru Malaysia tersebut yang merasa gaji mereka masih juga rendah. Namun pada kenyataannya, guru sekolah rendah di Malaysia sudah mampu mengajukan kredit mobil dari gajinya, sedangkan guru SD di Indonesia baru pada tahap layak mengajukan kredit sepeda motor. Itupun baru sebagian kecil guru saja, sedang sebagian besar lainnya berusaha melunasinya dengan menjadi tukang ojek.

sk-2.jpg sk-1.jpg

Kapan Guru SD sejahtera seperti ini ya??

oooOOOooo

26 Tanggapan

  1. nggak ada salahnya berguru pada tetangga kalau memang itu lebih baik..

  2. Buku teks atau buku pegangan yang digunakan siswa relatif tak berganti atau sama setiap tahun

    Nah ini dia…
    Kalau di Indonesia diterapkan seperti ini maka banyak pihak akan dirugikan…penerbit, pejabat terkait, guru yang juga nyambi jadi pedagang buku, penjual buku dll.
    Lebih baik mengorbankan rakyat biasa daripada mengorbankan para penanam modal (di penerbitan dan toko buku)…mungkin inilah yang ada di benak beliau2…

  3. @Kangguru: He..eh.., apalagi kalau lihat gaji dosen…??!!🙄😯😳😥

    @Kang Junthit: Yang patut berguru…, ya… yang berwenang mbayar guru…😀

    @Kang Deking: Lha… banyak yang dapat bagian, tho???…. Saya kok nggak kebagian….??? he…he…he… **sirik…**👿😈

  4. aduh!saya malu kayak gini,semakin tahun semakin tertingal. Malaysia saya lihat dulu negara itu jauh dari negara saya tapi sekarang negara saya yang di buat tertingal,sebenarnya saya sangat malu pikiran saya kenapa pemerintah kok tenang-tenang saja apa mereka tidak peduli lagi,kerena udah njabat tuh!lupa kalau kemarin siapa yang buat mereka pintar dan munkin di benak mereka “NGAPAIN NGURUS AKU UDAH HIDUP ENAK KOK,KALAU ANAK SAYA SEKOLAH YA CARIKAN SEKOLAH YANG BERTARAF INTERNASIONAL KAN ENAK TIDAK PUSING-PUSING”

  5. @Radhite:
    Saya teringat kata-kata guru SMA saya, beliau katakan begini,”Guru seperti saya ini selamanya akan tetap menjadi (disebut) guru, tapi kalian para murid tidak selamanya akan disebut sebagai murid. Pada saatnya nanti kalian akan berganti sebutan, sesuai profesi masing-masing. Dan saya…, tetap akan dipanggil Pak Guru”

    Nah ternyata para murid ini.., rupanya banyak yang lupa jasa para gurunya.😥😡👿

  6. Suatu saat saya akan datang ke negeri Jiran untuk melihat bagaimana pendidikan di sana.
    Tetapi katanya sarana sih lengkap namun SDM nya mereka masih kurang memadai…bener ga sih???

  7. Di atas langit, memang masih ada langit.
    Sistem pendidikan kita mungkin juga tidak akan bisa menjadi sempurna, namun janganlah kita selalu tertinggal. *Hiks..*😥

  8. dulu malaysia belajar ke Indonesia, kini kita sebagai guru merasa malah kalah pintar.Jadi kita tidak perlu berkecil hati. Indonesia banyak urusan, bukan hanya pendidikan saja yang dominan, kita negara memiliki wilayah luas. Sebenarnay bila kita bandingkan dengan guru yang ada di Eropa mungkin guru di indonesia lebih sejahtera. Guru di Indonesia yang katanya gaji bulanan kecil, tetapi memiliki rumah dan kendaraan sedangkan di Eropa banyak guru yang tidak punya rumah, meraka hanya mampu mengontrak rumah. Jadi bukan besarnya gaji tetapi seberapa besar gaji itu dapat dimanfaatkan. Saya guru SMP swasta gaji hanya Rp 100 rb tapi anak saya lima kuliah dan sekolah semua dalam satu tahun harus siap uang rp 30 jt-an.

  9. nah,,,,
    kalo pada bilang salah satu permasalahanpendidikan d indonesia rendah karean KURIKULUMYANG BERUBAH-UBAH,,,,

    That’s stupid statement!!

    negara yang bagus adalah negara yang dalam pendidikannya memiliki kurikulum yang berlaku hanya untuk 2-5tahun saja.
    lebih bagus lagi tiap 2 tahun sekali berubah.
    why??
    ya iayalah berubah,,
    jaman aja berubah
    iptek berubah…
    masa kita gak up todate???
    tar keburu abangnya tutup,,,hehehe
    masa mao pake kur.1994 mulu???
    1999???
    KBK???

    tidak ada yang tidak berubah
    kecuali kata “berubah” itu sendiri….
    hehehehe

    Yg disesalkan adalah TIDAK SIAPNYA SDM PENDIDIK di Indonesia,,,
    tidak siap dalam arti luas
    ada yg MENGAJAR TIDAK PADA KOMPETENSINYA
    ada yang hanya SEKEDAR MENCARI GELAR PNS
    dll

  10. @ oty_udunkz:Tulisan saya di atas merupakan satu kesatuan, jangan disimpulkan terpisah-pisah. Saya menyoroti hal wajib sekolah dasar. Kalau pemerintah sudah mewajibkan, maknanya sarana dan prasarananya (buku, spp, sumbangan pembangunan, tenaga pendidiknya…, dll) harus disupport pemerintah. Sehingga, pendidikan dasar 9 tahun itu GRATIS. Konsekuensinya, orang tua yang lalai tak menyekolahkan anaknya yang wajib sekolah dasar tsb juga akan mendapatkan sangsi.

    Saya tak alergi kurikulum berubah alias “up to date”, namun perlu dilihat dan dipersiapkan dulu kondisi real di lapangan. Banyak sekolah dan masyarakat di pelosok yang juga belum siap. Kalau sekedar merubah kurikulum itu mudah, namun pelaksanaannya bila tak sesuai harapan…, bagaimana???

  11. Salam, kenalkan nama saya Abul Hayat, sekarang sedang belajar di University of Malaya Kuala Lumpur. (Master of Education). saya sangat tertarik dengan media” Griya Maya Faiq” ini yang selalu membahas soal perkembangan pendidikan (kurikulum) di indonesia bahkan juga di Malaysia. baik dari sisi kelemahan dan kelebihannya.

    sebenarnya saya juga punya pikiran yang sama dengan kawan2 semuanya, bahwa dulu???? orang malaysia banyak belajar ke indonesia, sekarang malah sebaliknya…. apakah saat ini mutu pendidikan di indonesia jauh dibawah malaysia atau bagaimana? dan adakah faktor lain…….

    pertanyaan inilah yang kemudian menginspirasi saya
    dalam pembuatan Tesis nanti saya punya rencana akan mengkaji tentang “perbandingan kurikulum pendidikan di indonesia dan Malaysia”, khususnya pada kurikulum pendidikan SD,SLTP dan SMA. untuk saya berharap saran dan kontribusi pemikiran dari kawan2 (members) media ini”berbagi lewat tulisan”

    Trims.

    Abul Hayat

  12. Salam, kenalkan nama saya Abul Hayat, sekarang sedang belajar di University of Malaya Kuala Lumpur. (Master of Education). saya sangat tertarik dengan media” Griya Maya Faiq” ini yang selalu membahas soal perkembangan pendidikan (kurikulum) di indonesia bahkan juga di Malaysia. baik dari sisi kelemahan dan kelebihannya.

    sebenarnya saya juga punya pikiran yang sama dengan kawan2 semuanya, bahwa dulu???? orang malaysia banyak belajar ke indonesia, sekarang malah sebaliknya…. apakah saat ini mutu pendidikan di indonesia jauh dibawah malaysia atau bagaimana? dan adakah faktor lain…….

    pertanyaan inilah yang kemudian menginspirasi saya
    dalam pembuatan Tesis nanti saya punya rencana akan mengkaji tentang “perbandingan kurikulum pendidikan di indonesia dan Malaysia”, khususnya pada kurikulum pendidikan SD,SLTP dan SMA. untuk saya berharap saran dan kontribusi pemikiran dari kawan2 (members) media ini”berbagi lewat tulisan”

    Trims.

    Abul Hayat
    elhayattbi_um@yahoo.com

  13. ternyata memang benar sistem pendidikan di indonesia terlalu mementingkan dengan pemerintah d atas.
    benar sekali ganti menteri ganti percobaan.

    jadi seolah2 para siswa hanya menjadi bahan percobaan kurikulum yang di buat oleh pemerintah.

    Emang kita kelinci percobaan.????

    bagaimana nasib pendidikan di negara kita jika kurikulum terus berubah-ubah.??

    ckckckckckckckck

    apa kata dunia??

    hahahahaha:]]

  14. kalau melihat dari satu sudut pandang..yaitu kenapa guru sekolah rendah di malaysia berani mengajukan kredit karena…kebijakan di malaysia untuk mengajukan kredit mobil juga tidak neko-neko..bahkan dengan RM 500 menjadi DP untuk mobil jenis kancil.. yang saya heran kan di depdiknas sendiri sudah banyak stafnya yang melakukan studi banding ke luar negeri dan bahkan belajar ke luar negeri kenapa ya susah melakukan perbaikan?

  15. mohon ma’af saya tertarik betul dengan pendidikan di Malaysia, jika berkenan mohon diulas lebih detail model pendidikannnya baik ditinjau dari kurikulum, metode, media ataupun materinya. terutama kupas tunas masalah kurikulum termasuk ideology kurikulumnya. makasih atas disebarkannya ilmu semoga lebih bermanfaat khususnya untuk pengembangan kurikulum di indonesia

  16. persoalan pokok di Indonesia bukan kurikulumnya, tapi implementasinya yang ga maksimal, asal-asalan…..lebih mengejar hasil……proses diabaikan…..pbm jadul terus dari waktu ke waktu….dari kurikulum lama ke kurikulum baru ……PBM masih terus jadul……. ga ada yang berubah….ko hasil ingin berubah ….mana mungkin.
    sudah saatnya para inohong untuk memfasilitasi secara serius agar PAKEM digunakan oleh guru di dalam pembelajaran …….. wallahu alam bishowab…..

  17. Apakah anak-anak Indonesia setara kecerdasannya dengan anak-anak bangsa-bangsa maju di dunia? Kalau anda melihat deretan prestasi Prof. Yohanes Surya dan anak-anak asuhannya, jawabannya adalah, tidak. Samasekali tidak.

    Anak-anak Indonesia lebih unggul, lebih cerdas, lebih genius dibanding anak-anak dari bangsa-bangsa lainnya, termasuk dari bangsa-bangsa maju!. Mereka bahkan mengalahkan anak-anak dari China, Amerika, Jerman, Inggris, India, Korea Selatan, Australia, dan Israel. Bangsa-bangsa itu yang masih mengira Indonesia adalah bangsa yang terbelakang akan terkejut karena Indonesia tidak hanya setara dengan mereka, tapi bahkan telah melampaui mereka.

    Tiga tahun yang lalu, 2006, Republik Indonesia berhasil secara spektakuler merebut juara dunia Olimpiade Fisika Internasional ke 37 di Singapura, ”37th International Physics Olympiad”. Inilah Olimpiade Fisika terbesar sepanjang sejarah, diikuti para siswa paling cerdas dari 85 negara, dan kita berhasil menjuarainya!

    Kita berhasil merebut total 4 Emas, dan 1 Perak, bahkan Jepang saja hanya dapat 3 Perunggu! Ini membuktikan bahwa anak-anak Indonesia tidak sejajar dengan anak-anak cerdas lain di dunia, kita adalah juara, pemenang, nomor 1, lebih hebat dari semua lainnya.

    Dan baru-baru ini, April 2009, Indonesia berhasil lagi menjadi Juara Umum di International Conference of Young Scientists (ICYS) di Polandia, mengalahkan pelajar dari negara-negara maju seperti Jerman, Belanda, Amerika, dan Rusia! Total 6 Emas direbut anak-anak Indonesia dari berbagai bidang ilmu, sementara peserta-peserta dari negara maju hanya mampu dapat paling banyak 3 emas.

    Tim IPhO 37, 2006, Singapura
    [spoiler=tim IFO]

    Di Singapura 2006, seorang anak Indonesia asuhan Yohanes Surya berhasil menjadi ”The Absolute Winner”, juara dunia IPhO, yang terbaik mengalahkan 386 anak-anak paling cerdas di negaranya masing-masing. Saat itu, tidak ada yang menyangka Indonesia bisa mendapat medali apapun.

    Tapi bukan hanya mendapat medali, anak-anak Indonesia justru mendominasi olimpiade sains bergengsi itu, dan merebut emas paling banyak. Benar-benar surprise yang spektakuler. Sang pemenang besar itu adalah Jonathan Mailoa, anak genius yang sekarang telah belajar di MIT, Massachusetts Institute of Technology.

    Dan tidak itu saja. Yang juga mengejutkan adalah peserta termuda genius yang berhasil merebut medali perak. Dia masih kecil, baru SMP, dan kemenangannya membuat seluruh penonton dan perwakilan dari seluruh dunia tertegun dan takjub. Nama anak itu adalah Muhammad Firmansyah Kasim. Para wakil peserta terheran-heran, bagaimana anak sekecil ini bisa memecahkan persoalan fisika yang begitu kompleks, setara S-2 dan bahkan menjadi salahsatu juara? Firman memang bukan anak kecil biasa.

    Tahn 2007, Firman kembali mencapai prestasi yang bahkan lebih spektakuler. Ia berhasil merebut emas di kejuaraan dunia “8th Asian Physics Olympiad (APhO)” di, Shanghai, China. Mengalahkan anak-anak terbaik China, di China, adalah sebuah prestasi yang heroik.
    Saat itu dia masih kelas 1 SMA (SMA Athirah Makasar), sementara pesaing-pesaingnya, anak-anak terbaik dari seluruh dunia, terutama dari China (yang berpenduduk 1,3 milyar), kebanyakan sudah kelas tiga. Dari 5 anak yang berhasil merebut emas, 4 dari China, dan hanya satu yang dari luar China, yaitu dari Indonesia, Muhammad Firmansyah Kasim, dan dia pun bahkan adalah peserta paling muda.

    Banyak juga anak-anak genius Indonesia justru datang dari daerah yang seringkali kita anggap sebagai daerah tertinggal, Papua. Ternyata dalam melahirkan manusia-manusia genius, mereka samasekali tidak tertinggal. Bahkan disana banyak anak-anak yang kecerdasannya tidak akan tertandingi oleh kebanyakan anak-anak paling cerdas di daerah-daerah lainnya.

    Anak-anak genius itu adalah George Saa, Anike Bowaire, Andrey Awoitauw, Rudolf Surya Bonay, Jane Ansanay, Zacharias Viktor Kareth, dan masih banyak lainnya.

    Brilliant Minds, dari Papua

    George Saa, adalah pemenang “First Step to Nobel Prize in Physics” 2004, dan hanya anak-anak paling cerdas di seluruh dunia, para genius muda calon-calon peraih Nobel yang mampu meraihnya.

    Hasil penelitiannya yang berjudul “Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor” mengalahkan ratusan karya terbaik yang dikirim peserta-peserta dari 73 negara di dunia. Setiap karya yang masuk akan dinilai 30 ahli-ahli fisika dari 25 negara. Dan juri memutuskan pemenangnya adalah George Saa, dari Indonesia.

    Hebatnya, George (Oge) bisa mempunyai pemikiran yang sejauh itu dari Papua. Kita tahu disana fasilitasnya, buku-buku, alat-alat laboratorium, apalagi internet, semua begitu terbatas. Bahkan Oge kadang juga terpaksa tidak bersekolah karena tak punya ongkos, atau harus membantu ayahnya di ladang. Sesuatu yang tentu saja akan membuatnya menangis berjam-jam. Belum lagi buku yang seringkali tidak bisa terbeli.

    Dan uang, adalah masalah omong kosong. Kalau anda membaca buku di perpustakaan, gratis tanpa biaya, dan anda membacanya seperti orang gila dari pagi sampai malam, tidak akan ada yang bisa mengalahkan anda, bahkan di seluruh dunia.
    “Uang bukan segala-galanya untuk maju.
    Selalu ada jalan untuk menimba ilmu.”George Saa

    Dan George beruntung karena akhirnya dia mendapat bimbingan dari seorang profesor terbaik di Indonesia, Prof. Yohanes Surya. Dengan bimbingan yang unggul, terbukti setiap anak Indonesia, semuanya, bisa jadi yang terunggul.

    Di tahun 2005, gadis cilik Anike Bowaire dari SMU Negeri 1 Serui Papua gantian meraih “The First Step to Nobel Prize in Physics” di Warsawa, Polandia. Makalahnya yang berjudul berjudul “Chaos in an Accelerated Rotating Horizontal Spring” dianggap sangat kreatif dan original.

    Seorang anak SMU yang mengenal Teori Chaos (keteraturan dalam chaos) sebenarnya nyaris adalah sebuah keajaiban. Tapi seorang anak SMU yang bisa menciptakan teori sendiri tentang Chaos, adalah sesuatu yang nyaris mustahil. Tapi itulah keajaiban besar yang datang dari Papua. Anike sudah membuat harum nama Indonesia, padahal umurnya pun belum 20 tahun.

    Karena senangnya belajar, Anike bisa membaca dan belajar dari pagi buta sampai tengah malam. Orang-orang mungkin akan bertanya, ”kenapa?”. Jawabannya sederhana. Karena ia senang dengan fisika, dan dunia fisika. Baginya, fisika adalah keajaiban.

    Banyak lagi anak-anak Papua yang memiliki prestasi spektakuler. Rudolf Surya Bonay (20 tahun, lahir 7 Desember 1988), adalah pemenang “The First Step to Nobel Prize in Chemistry” di tahun 2006. Andrey Awoitauw mendapat medali emas Olimpiade Sains Nasional (2005) mengalahkan Ivan Kristanto, juara dunia dari Jakarta. Ada juga Jane Ansanay dan Zacharias Viktor Kareth yang akan mengikuti Olimpiade Fisika Asia di Vietnam.

    Ada Dhina Pramita Susanti (16 tahun), yang bersama Anike Bowaire mendapat emas di “The First Step to Nobel Prize in Physics” ke-13 di Warsawa, Polandia 2005. Dia juga belajar di bawah bimbingan Prof Yohanes Surya. Dina yang masih remaja kecil ini saat akan ke Polandia berjuang dengan tidur hanya empat jam sehari, selama 4 bulan, untuk bisa menguasai soal-soal yang hanya dimengerti mahasiswa-mahasiswa fisika tingkat pascasarjana. Benar-benar keteguhan yang menakjubkan.

    Ada juga Stephanie Senna, murid SLTP Ipeka Tomang yang menjadi anak Indonesia pertama yang meraih emas di Internasional Biology Olympiad di Saskatoon, Kanada 2007. Dia juga pernah meraih gelar “The Best Experimental Winner” di “International Junior Science Olympiad” 2004 di Jakarta.

    Di ajang bergengsi yang diikuti 30 negara ini Indonesia kembali menjadi juara umum dengan memborong 8 medali emas, 4 perak, ”Best Experimental Winner” dan “Absolute Winner”. Taiwan mendapat 5 Emas, dan bahkan Korea Selatan dan Rusia saja hanya dapat 1 Emas.

    Ada juga anak 13 tahun dari Cilacap bernama Azis Adi Suyono. Ia benar-benar seperti Lintang di cerita Laskar Pelangi. Sekolahnya jauh, dan harus menyeberangi sungai dan rawa-rawa. Anak genius inilah yang merebut gelar ”Absolute Winner” di Olimpiade Sains Junior Internasional 2004 di Jakarta itu. Anak dari keluarga sederhana, dan bersekolah di sekolah terpencil di desa Jojok, Kotawaru Cilacap ini mampu mengalahkan pelajar-pelajar terbaik dari Korea, Taiwan dan Rusia yang mempunyai sistem pendidikan terbaik dan fasilitas super canggih.

    Wisdom begins in Wonder..
    Socrates (469-399SM)[/spoiler]
    ini dia gan situs resminya
    Spoiler for link
    http://imperiumindonesia.blogspot.com/2009/08/yohanes-surya-menuju-indonesia-genius.html

    malaysia koq gak keliatan dari tadi….katanya indonesia negara bodoh….

    • Yang saya tulis di artikel saya adalah “sistem pendidikannya”, bukan anak didiknya.

      Anak2 Indonesia yang anda sebutkan di atas, “raw material”nya memang sudah berkilau layaknya batu mulia. Dan Prof Yohanes berhasil menemukannya dan memolesnya menjadi lebih mengkilat & cemerlang.
      Pertanyaan saya, kalau mereka (terutama yang di papua atau daerah tertinggal lainnya) hanya dididik dengan cara konvensinal & tidak dipoles oleh Prof Yohanes, apakah masih punya kesempatan untuk berkilau di dunia luar?

      Karena itulah saya masih berharap, ke depan nanti sistem pendidikan kita semoga menjadi lebih baik bagi anak didiknya dan juga pendidiknya.

    • aduis………si indonesia……ini smua yang berjaya gimana pula yang enggak berjaya……bahkan di malaysia guru dimestikan mempunyai bachelor berbanding di indonesia….enggak punya ijazah pun boleh jadi guru…….berbanding malaysia pensyarah di universitas dimestiin mempunyai pHd berbanding indonesia hanya mempunyai ijazah………untuk pengetahuaan semua dulu rakyat malaysia belajar di indonesia hanya pengajiaan agama yang baik…..bukannya dari segi pelajaran kejuruteraan atau kedoktoran………………………………………………………

    • hanya 24 negara yang ikut olimpiade itu, dan malaysia tidak pernah ikut serta.harus tahu fakta sebelom berbicara,kerana akan semakin terlihat KEBODOHAN KAMU DI DUNIA.

  18. @zhariffarhan: ish… ish… ish…. ye ker..??? macam tu…?? komen awak tu tak objektif sangat…
    Saya tengok masih ramai cikgu Sekolah Rendah di Malaysia yang tak punya bachelor, bahkan diploma-pun takde…. Juga tak semua pensyarah di universiti (utamanya pensyarah tempatan) mempunyai PhD…
    Tak payahlah awak terlalu sombongkan diri…. kerana ramai pula PhD daripada Indonesia yang menjadi pensyarah IPTA dan IPTS di Malaysia.
    Di Indonesia, guru Sekolah Dasar dimestikan sekurang-kurangnya Diploma… guru Sekolah Menengah mesti bachelor.
    Pensyarah (Dosen) di Indonesia untuk undergraduate, mesti sekurang-kurangnya Sarjana (Master)…. dan pensyarah pascasiswazah mesti PhD.

    • kenyataan saya memang objektif……di sekolah rendah para guru diwajibkan mempunyai diploma…..sebab tu wujudnya maktab 2 perguruan…..sekolah menengah pula diwajibkan mempunyai ijazah …..Bagi pensyarah pula,sekarang ini malaysia TELAH mewajibkan semua pensyarah di universiti mempunyai PhD………sebab itulah kebanyakan pensyarah di malaysia telah dihantar ke untuk menyambung pengajiaan di luar negara seperti di UK…..seperti ayah saya yang sedang melanjutkan pengajian ke singapura dalam bidang pengurusan perniagaan peringkat PhD walaupun dah berumur 50an!!!!……dia terpaksa melanjutkan pengajian kerana dihantar oleh universiti teknologi mara………..

    • jika kamu mengatakan seperti itu,itu menunjukkan kamu sangat tidak tahu kedudukan perkara sebenar di lapangan. 20 tahun dulu para guru SD di malaysia cuma perlu ada sijik perguruan yang memerlukan 3 tahun pembeljaran,tapi saat 20 tahun lalu sudah diwajibkan para guru SD yang tidak mempunyai diploma harus mengambilnya denga dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah. kerna itu gaji para guru SD di malaysia dinaikan kepada RM1800 tau RP 6 juta sebulan.

    • satu penilaian yang salah, kerna harus punya diploma paling kurang untuk menjadi guru SD di malaysia.

  19. di malaysia para gurunya saat ini meneriman gaji paling sedikit RM1800 atau RP 6 juta sebulan untuk guru SD. semua bilik guru dilengkapi AC dan bilik-bilik kerja yang lain juga dilengkapi AC. kecuali bilik kelas pelajar yang belom diberikan AC,cuma kipas 3 besar. setiap murit diberikan pakaian seragam gratis,dan semua yuran pelajar dan yuran pepriksaan tahunan sudah dibatalkan oleh pemerintah. cuma yuran PIBG itu terserah kepas ibu dan bapa pelajar untuk memberikannya atau tidak kepada pihak sekolah,kerana uang itu tidak diwajibkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: