Kesadaran Berbagi Ruang di Jalan Raya

Topik utama yang saya angkat dalam postingan kali ini adalah melihat bagaimana fenomena sosial yang berlaku di jalan raya. Meskipun tulisan ini lebih banyak unsur subyektifnya (karena dipaparkan hanya berdasar pengalaman), namun saya yakin para pengguna jalan yang lain juga punya pengalaman yang sebagian besar sama dengan yang dialami penulis.

Tak ada maksud untuk membanding-bandingkan, namun lebih kepada ajakan untuk bersama-sama merenungkan sejauh manakah kondisi sosial yang ada di sekitar kawasan jalan raya. Syukur-syukur bila para pembaca tulisan ini akhirnya bersedia merubah perilaku negatifnya menjadi lebih santun di jalan raya. Semua demi kenyamanan dan keamanan kita bersama.

Tulisan ini direncanakan akan dibagi dalam beberapa sub judul (dalam 2 atau 3 postingan). Untuk yang pertama ini, secara umum saya tuliskan kondisi sosial jalan raya di negara kita tercinta, Indonesia.

***

Gambaran jalanan kita

Berbagi ruang dan saling hormat menghormati antar pemakai jalan adalah salah satu faktor utama untuk merasakan ada tidaknya kenyamanan dan keamanan berkendara dan berjalan di jalan raya. Fenomena sosial di jalan raya merupakan gambaran bagaimana kehidupan kemasyarakatan para penggunanya. Gambaran fenomena tersebut biasanya berupa interaksi yang terjadi antara satu pengguna jasa lalu lintas dengan pengguna lainnya.

Apa yang anda rasakan dan anda temui bila berada di jalan raya di tanah air kita? Perasaan nyaman dan aman ataukah sebaliknya? Mungkinkah jawaban anda, seperti yang saya fikirkan? Bahwa kenyamanan kita “terrampas”? Terrampas karena setiap hari kita akan bertemu dengan tindakan perampasan pengambilan hak dengan seenaknya dan tanpa rasa bersalah antara satu dengan yang lain. Atau, mungkinkah justru kita yang berlakon sebagai perampas hak orang lain?

Intermezzo, saya teringat akan cerita seorang kawan ketika mendampingi tamu (dosen senior) dari negeri jiran, di Semarang. Ketika berada di dalam kendaraan, sang tamu khawatir dan terkejut-kejut bila menyaksikan tertib lalu lintas di negara kita. “Macam mana boleh berlaku seperti ini?” tanya dia. “Tenang Prof, driver kami sudah terbiasa dengan peraturan lalu lintas di sini. Insya Allah selamat sampai tujuan”, jawab kawan saya menenangkan sang tamu. Budaya “rimba” lebih dominan berlaku di jalanan negara kita. Siapa yang berhasil nyelonong duluan masuk ke alur jalan lain, itulah yang menang. Sang tamupun terkejut-kejut menyaksikan realitas itu.

Contoh “ringan” lainnya, lihatlah kejadian sehari-hari di sekitar traffic light. Betapapun di persimpangan jalan itu telah menyala lampu merah, selalu saja ada kendaraan yang seenaknya nyelonong menerobos lampu merah tanpa memperhatikan kendaraan yang datang dari arah lain. Perampas hak tersebut tak bersedia memberi prioritas pada kendaraan lain yang lebih berhak memanfaatkan laluan. Apalagi terhadap hak para pejalan kaki yang sedang menyeberang jalan di persimpangan tersebut.

Kejadian lebih parah lagi terjadi bila persimpangan tersebut hanya terdapat rambu lalulintas berupa garis marka. Lagi pula, seingat saya (semoga ingatan saya salah, red) persimpangan jalan di tanah air kita (terutama yang bukan jalan utama atau yang berada di pinggir kota) hampir semuanya tak berrambu. Baik yang berupa lampu lalu lintas ataupun rambu marka.

Fenomena sosial lainnya adalah budaya antri dan bersedia tetap berada pada lajur/alur jalan masing-masing ketika terjadi kemacetan di jalan raya, tak tampak sama sekali. Gambaran saling berebut dan berusaha saling mendahului meskipun berada di kemacetan lalu lintas, sudah menjadi suguhan sehari-hari. Pengendara-pengendara agresif (ada yang menyebut demikian) seperti ini, banyak dilakonkan oleh para pengendara sepeda motor dan pengemudi angkot. Padahal dengan kejadian seperti ini, kelancaran, kenyamanan dan keamanan berlalulintaspun pasti terganggu.

Apakah di negara kita telah terjadi degradasi kesopanan berlalu lintas, jawabannya mungkin “ya” mungkin juga “tidak”. Kenapa? Jawaban “ya” berlaku bagi para pengguna jalan yang semula mau berlaku sopan, tetapi bila dihadapkan pada kenyataan di jalanan maka perilaku positifnya berubah menjadi negatif. Sebaliknya jawaban “tidak” dapat dikenakan pada pengguna jalan yang memang sudah terbiasa tidak berbudaya santun dari awalnya. Padahal bila para pengguna jalan tersebut “migrasi” ke negara lain yang lebih maju, attitude merekapun dengan sekonyong-konyong berubah menjadi positif, tanpa syarat. Merekapun bisa berlaku sopan bila berlalu lintas di negara lain dan bersedia berantri bila terjebak kemacetan.

***

Itulah sekelumit ilustrasi yang saya kemukakan berkaitan dengan rasa nyaman berada di jalan raya. Budaya berlalu lintas yang sopan (secara umum) sudah lama tak tampak dalam lingkungan jalan raya kita. Gambaran lain terrampasnya rasa nyaman dan aman di jalan raya Indonesia dapat pula anda baca di sini, disini, dan juga di sini. Begitulah realitasnya, bahwa pada kenyataannya memang kenyamanan, keamanan dan kesopanan berlalu lintas di tanah air tercinta sudah terkikis habis, tak bersisa.

Sumber gambar: KOMPAS Cybermedia-21/1/07.

oooOOOooo

 

12 Tanggapan

  1. “pengguna jalan yang semula mau berlaku sopan, tetapi bila dihadapkan pada kenyataan di jalanan maka perilaku positifnya berubah menjadi negatif”

    Jalan bak hutan rimba, kalau kita ngalah justru dikerjain terus sama pengguna jalan lain..

  2. semoga para pengguna jalan raya mau sadar .

    sekalian mau kenalan nih aku pendatang baru

  3. @Junthit: Yes, budaya “rimba” itulah yang akhirnya mendorong orang yang semula berperilaku positif berubah menjadi negatif. Perubahan perilaku ini dipicu karena emosinya kerap “dibakar” perilaku pengendara lain yang selalu mengambil kesempatan untuk merebut jalur dia. Apalagi bila batas kesabarannya memang sudah mentok, ya… ikutan nyerobot deh…

    @Hassim: Marilah kesadaran dan kesabaran ini kita mulai dari diri kita sendiri…. Terima kasih sudah mau berkunjung…. ,wah sempat kaget juga saya, kirain yang berkunjung ini Pak Kyiai Hasyim Muzadi… hehehe😀

  4. Di negeri kita tercinta, kalau mau nyebrang jalan harus bener2 kosong ga ada mobil atau motor lewat. Kalaupun ada, harus jaraknya masih sekita 100 meteran biar bisa nyebrang.

    Di negeri mantan penjajahnya (Belanda), malah enak lho kalo mau nyebrang jalan. Para driver itu mendahulukan para pejalan kaki. Mereka rela berhenti menunggui pejalan kaki biar bisa nyebrang.

    Tapi, biar begitu, saya tetap rindu negeri tercintaku…

  5. Sepertinya semua itu karena sangat rendahnya kesadaran akan keselamatan berkendara
    Bangsa kita mungkin masih merasa sakti mandraguna (kekuatan sakti warisan nenek moyang hehehe) sehingga mereka sembrono dalam berlalu lintas tanpa menyadari semua resiko yg mungkin muncul
    Saya ingat perkataan saya yang saya rasa lumayan tepat… “kalau mati sekalian sih mending, coba kalau karena kecelakaan jadi cacat parah seumur hidup … ”
    *pulang sambil tutup muka karena saya juga senang kebut2an😀

  6. iyaa yaa kita sih boleh malu jika keadaan jalanan kita begini. Apalagi dilihat oleh orang asing yang lebih keren dan moderen. Tapi memang disigner plan orang indonesia dengan China beda jauh. CHina sekarang jalanannya luar biasa lebar2 dan mulus padahal di desa. kita kalau sudah macet baru bikin jalan bagus.. aya-aya wae…🙂

  7. Ralat (baru nyadar hehehe)…
    Yang ini salah …

    Saya ingat perkataan saya yang saya rasa …

    Maksud saya adalah ini…

    Saya ingat perkataan teman saya yang saya rasa …

    Maaf atas ketidaknyamanan yang muncul hehehe

  8. @Mathematicse: Sayapun merasakan nikmatnya berkendara itu ya ketika berada di luar Indonesia. Tapi bagaimanapun juga, sayapun tetap cinta tanah air saya. “Setinggi-tinggi bangau terbang, akhirnya kembali ke sarangnya juga”.

    @Deking: Hehehe… saya semula juga bingung ketika baca kalimat terakhir itu. Kirain kang Deking mau nekad di negeri orang…, **cuma guyon, jangan dimasukin ati**😀

    @Santribuntet: Pembangunan sih boleh tertinggal, pak. Tapi perilaku baik dan disiplin jangan tertinggal, ah… malu-maluin.😀

    @Deking: OK, ralatnya diterima. Biar keasliannya tetap, tak perlu saya update-kan ke atas ya??

  9. […] Kesadaran Berbagi Ruang di Jalan Raya […]

  10. Perilaku orang kita terutama di jalan udah gak karuan , ibarat di jalan raya kaya masuk arena balap. Mudahnya kepemilikan kendaraan roda 2 cukup dengan Rp. 500 rb udah bawa pulang kendaraan, para orang tua juga punya andil cukup besar dengan membiarkan anaknya di bawah umur tuk pake motor di jalan raya. Yang tak kalah pentingnya desain kendaraan sekarang kencang2x semua, liat aja iklannya gk ada yang menganjurkan cara aman berkendara…..
    Anehnya lagi orang kita, kalo bisa melanggar itu bangganya luar biasa, apalagi ampe bisa lolos dari polisi. Tapi itu semua paling tidak harus dimulai dari diri kita sendiri tuk mau mentaati peraturan dan memberi kesempatan pada pemakai jalan yang lain.
    Semua akan menjadi baik, kalo semuanya dimulai dari diri kita sendiri ……..

  11. peraturan dibuat utk dilanggar, ini semua karena kesalahan penegak peraturannya itu sendiri yg kacau. sedari dulu, sehingga bisa dikatakan hampir menjadi sebuah budaya yg biasa.
    saya akui… emang kacau balau prilaku pengemudi kita.

  12. Menyetir di jalanan.

    Ada yang ingin saya ceritakan tentang berlibur, dan menyetir sendiri kendaraan di jalanan. cumen perasaan saja yang saya ceritakan, tidak ingin membandingkan atau mencemooh apa yang terjadi diatas aspal Negri ini.
    Dijalanan, rasanya kemanusian bukanl…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: