Gedung Tinggi? Hiii, ngeriii….

Belum genap satu bulan sejak terjadinya musibah jatuhnya mobil Honda Jazz dari lantai 6 gedung ITC Permata Hijau Jakarta (17/5/07), minggu ini (3/6/07) kita dikejutkan dengan kecelakaan yang terjadi di gedung ITC Mega Grosir Surabaya. Kebetulan dua contoh musibah di atas, adalah kecelakaan jatuh dari gedung bertingkat di ITC. Namun sebetulnya peristiwa musibah itu bisa terjadi di mana saja, terlebih lagi bila kita kurang waspada.

Beberapa tahun dulu saya teringat ada seorang anak kecil (tak pasti berapa usianya) yang terjatuh dari eskalator di sebuah supermarket di Semarang. Kejadiannya hampir sama dengan yang terjadi di Surabaya, si anak terlepas kontrol dari ortunya. Secara tak sengaja dia berpegangan pada handrail escalator dan terbawa naik hingga kemudian si anak tak mampu menjaga keseimbangannya, dan jatuh. Beruntung, dia terjatuh tak terlalu tinggi dan kemudian menimpa seseorang yang berada di lantai bawah. Meski keduanya sempat pingsan dan dirawat di rumah sakit, namun alhamdulillah dapat diselamatkan.

Cerita lain terjadi di Mal Ramayana Sidoarjo pada pertengahan Mei 2007. Seorang anak berusia 9 tahun terjatuh dari ketinggian di mal tersebut. Namun, sang korban yang jatuh dari tangga menuju lantai tiga tersebut selamat, karena saat jatuh dia tak langsung membentur lantai. Meski ia jatuh dengan posisi kepala di bawah, namun sebelum membentur lantai, kepala korban membentur kepala seorang pengunjung mal di lantai bawah. Keduanyapun “ambruk”, tapi akhirnya dapat diselamatkan setelah sebelumnya mendapat rawatan di rumah sakit.

Pada tulisan ini, saya akan menyorot peristiwa ini dari sisi teknik sipil atau teknik bangunan saja. Karena setelah terjadinya dua insiden di ITC itu, banyak komentar-komentar yang berhubungan dengan aspek keamanan gedung bertingkat. Bahkan ada juga komentar yang “lucu” menyangkut keamanan gedung bertingkat ini. Contohnya, kenapa travelator itu tak dibuat lebih landai saja atau kenapa handrail travelator itu tak di desain statis (tak berputar) saja? Tulisan ini akan berusaha “berbicara” objektif, dan jangan segan-segan mengingatkan dalam kolom komentar bila “terindikasi” ada uraian yang tak objektif.

Insiden Honda Jazz

Menurut saya ada dua hal yang ikut berperan dalam peristiwa ini:

  1. Faktor pengemudi (istri), dan yang menyertai pengemudi (suami).
  2. Faktor konstruksi dinding pengaman gedung.

Ramp melingkar Dinding pembatas

Gambar 1. Ramp dan dinding batas yang jebol (klik gambar untuk memperbesar)

Faktor pertama, saya rasa semua pembaca sudah tahu, bahwa si pengemudi “diduga” baru belajar mengendarai mobil jenis automatic. Ya, untuk faktor pertama hanya ini yang saya bahas. Selanjutnya mari kita lihat dari sisi konstruksi bangunannya.

Gedung ITC Permata HijauPolisi dan pihak Sub Din Pengawas dan Penataan Bangunan (P2B) Walikota Jakarta Selatan telah melakukan penelitian ke lokasi kejadian. Mereka meneliti seberapa jauh segi keamanan tembok pemisah di sisi gedung parkir. Dari hasil penyelidikan terungkap bahwa tembok pemisah itu hanya terbuat dari beton dan tidak dilapisi besi penyanggah (kolom praktis & ring balk, pen). Dilihat dari struktur bangunan tembok ini, pemilik ITC Permata Hijau tidak mementingkan segi keamanan pengendara mobil, sehingga dengan mudah Honda Jazz menerjang tembok tersebut. Sebaliknya dari pihak Manager HRD dan General Affair ITC Permata Hijau, Johny Liem berpendapat bahwa bangunan sudah sesuai prosedur, termasuk dari segi pengamanan.

Mari kita lihat gambar di bawah ini:

Dinding tanpa penguat Dinding dengan penguat

Gambar 2. Dinding tanpa tulangan (kiri) & bila diberi penguat (kanan)

Pada Gambar 2 di atas, saya sajikan dua buah gambar (klik pada gambar untuk memperbesar). Gambar 2 kiri, adalah gambar keadaan asli konstruksi gedung ITC. Terlihat pada tembok pembatas setinggi 1.0 m tersebut tidak diperkuat dengan tulangan. Minimal seharusnya diperkuat dengan balok praktis (ring Balk) di bagian atas dinding tersebut. Dan lebih baik lagi bila ditambah dengan satu buah kolom praktis, apalagi bila jarak antara kolom strukturnya (kolom berpenampang bulat) tersebut relatif lebar. Lebih aman lagi bila ditambah dua kolom praktis, seperti tampak pada Gambar 2 kanan (solusi no. 1).

Dalam ilmu bangunan gedung, dinding bukanlah bagian struktur (tidak menahan beban), tetapi dinding hanyalah sebagai pembatas ruang saja. Namun dalam kasus ini, sedikit berbeda. Dinding setinggi 1 meter tersebut, selain sebagai pembatas juga tentunya dimaksudkan sebagai dinding pengaman. Karena letaknya di sisi luar jalan melingkar sekaligus mempunyai kemiringan (tanjakan/turunan) untuk keluar masuk mobil dari dan ke ruang parkir.

Mengingat faktor kesulitan, fungsi ruang, dan tingkat bahaya tersebut seharusnya dinding itu memang berfungsi sebagai pembatas dan pengaman. Sehingga harus didesain kuat melawan benturan, meskipun dibatasi maksimal “gaya” bentur yang menumbuknya. Jika karena alasan biaya proyek yang terlampau besar, maka menurut hemat saya solusi pemasangan ring balk dan kolom praktis itu sudah lebih dari cukup (solusi 1).

Kalau seandainya dinding tembok tersebut sudah terlanjur tak dipasang tulangan praktis, maka alangkah lebih baiknya pihak ITC memasang pengaman tambahan berupa pagar besi seperti pada Gambar 2 kanan (solusi no. 2). Dengan memperkuat ini, bukan berarti ITC dengan serta merta terbukti bersalah, tetapi tindakan itu adalah semata-mata sebagai bentuk rasa tanggung jawab pihak manajemen gedung terhadap keselamatan pengunjung.

Kecelakaan Travelator

ITC SurabayaDalam peristiwa ini, saya lebih cenderung berpendapat bahwa kecelakaan ini murni kesalahan manusia. Dari sisi keamanan bangunan, tak ada cacat konstruksi. Lain masalahnya, bila eskalator ataupun balkon gedung ITC tidak dilengkapi pagar pembatas. Atau secara ekstrim tiba-tiba eskalator ataupun dinding balkon tersebut runtuh tanpa sebab dan mengakibatkan kecederaan orang lain/pengunjung baik yang lagi “nyender” ataupun yang ada di bawahnya. Itu baru disebut dengan kegagalan konstruksi atau pihak gedung kurang memperhatikan keamanan dan keselamatan pengunjung.

EscalatorDesain eskalator yang meliputi lebar, panjang, dan kemiringan eskalator serta tinggi handrail sudah direncanakan oleh pabrik pembuatnya. Tipe-tipe yang sesuai dengan rencana gedung, dapat dipilih dari brosur yang dicetak distributor/agen penjualnya. Perencana gedung (arsitek ataupun insinyur sipil) hanya merencanakan sisi artistik dan struktur (balok & lantai) yang menopang eskalator tersebut. Jika tidak ada kegagalan konstruksi seperti yang saya sebut di atas, maka secara moral sebetulnya pihak ITC tidak dapat dituduh lalai.

Gambar 3. Cara kerja mesin Eskalator

Dari Gambar 3 di atas tampak jelas bahwa handrail eskalator memang didesain ikut berputar searah dengan pergerakan lantai pijakannya. Ini untuk kenyamanan dan keselamatan pengguna. Pengguna yang akan naik-turun akan lebih aman bila dia berpegangan pada handrail. Di Kuala Lumpur, saya lihat di setiap eskalator di stasiun-stasiun train/monorail terdapat pengumuman untuk selalu berpegangan pada handrail ini. Dalam kondisi seperti ini, bayangkanlah bila handrail tidak ikut bergerak.

Eskalator di ITC Papan Pengumuman

Gambar 4. Kondisi lapangan di ITC (ki) dan Papan pengumuman di Mal Johor Bahru (ka)

Hanya saja alangkah lebih baiknya bila setelah peristiwa ini pihak ITC atau mal-mal atau gedung-gedung mana saja yang ada fasilitas eskalator, bersedia memasang tulisan peringatan di dekat eskalator/travelator (lihat Gambar 4). Seperti yang saya lihat di sebuah Mal di Johor Bahru, Malaysia. Atau yang lebih bagus lagi di sisi kiri dan kanan eskalator/travelator dipasang “jaring” pengaman seperti tampak pada Gambar 5. Ini sebagai bentuk kepedulian pihak manajemen gedung terhadap konsumen/pengunjung.

Jaring Pengaman

Gambar 5. Travelator yang dilengkapi pengaman di sisi-sisinya.

Semoga kejadian-kejadian tersebut menjadi petunjuk dan pengingat bagi kita semua untuk selalu berlaku waspada dan hati-hati. Karena “mencegah itu lebih baik dari pada tidak mencegah” dan “berjaga-jaga itu lebih baik daripada tidak berjaga-jaga”, betul… ??

oooOOOooo

Artikel lain yang berhubungan dengan gedung tinggi:

Perencanaan Instalasi Gedung Bertingkat

14 Tanggapan

  1. Perdanax….

    Iya yah kenapa dinding yang berbatasan dengan bagian luar kok ga dikasih pengaman? Yang salah arsiteknya atau kontraktornya yah?

  2. Konon *katanya* di Indonesia sebagian bangunan (umum, instansi, pribadi) kurang begitu memperhatikan aspek keamanan ya?
    Hal ini diperparah oleh perilaku pengguna yang juga meremehkan segi keamanan, misalnya belum begitu bisa nyopir sudah berani mengendarai kendaraan di tempat seperti di atas, orang tua yg kurang menjaga anaknya di tempat umum.
    Saya sependapat, berjaga-jaga lebih baik daripada tidak.

  3. Pak, sepertinya ini masih agak berkaitan dengan tulisan Pak Faiq yang tentang berbagu jalan raya…intinya adalah kesadaran akan keselamatan
    Khusunya yang tragedi Hona Jazz itu, menurut berita dan cerita (tidak tahu valid atau tidak) pengemudi Jazz tsb adala sang istri yang belum mahir dalam berkendara…nah di sinilah letak kekurangsadarannya atas keselamatan berkendara…

  4. @All: Mohon maaf sebelumnya, maunya saya malam ini login sekalian buat postingan baru, tapi tiga hari sejak postingan terakhir saya (8/6/07), server di UTM agak “trouble”. Dan malam ini, sepertinya saya hanya bisa baca-baca dan komen saja (untuk login, susah…, masih error).

    Mathematicse: Mengenai siapa yang salah, perencana atau kontraktor ataukah pemilik, memerlukan penyelidikan lebih lanjut (kalau memang kasus ini mau diteruskan..).
    Satu lagi saya teringat pak Jupri, untuk keamanan yang maksimal bisa saja perencanaan dinding pengaman ini disamakan dengan desain dinding (handrail) pada jembatan atau pada sepanjang jalan layang. Yang mana pada jalan layang tersebut, dinding pengaman didesain dengan menggunakan beton bertulang. Apalagi faktor kesulitan jalanan melingkar dan sekaligus menanjak/menurun ini sangat tinggi, bahkan mungkin melebihi tingkat kesulitan di jalan layang.
    Kalau dibuat seperti ini, dinding insya Allah tidak jebol, keamanan pengguna lebih terjamin, tetapi dari segi biaya mungkin pemilik (ITC) akan keberatan….

    @Cakmoki: Tidak semua bangunan di Indonesia, kurang memperhatikan aspek keamanan. Tetapi sepertinya untuk bangunan umum (terutama yang disewakan/bisnis, tidak ditempati sendiri), pesanan dari pemilik adalah “rencanakan yang ekonomis tetapi kuat” akibatnya bangunan tersebut direncana dengan menggunakan nilai faktor keamanan yang minimal atau dengan kata lain, minimal aman tapi murah biayanya.
    Berbeda dengan bangunan ruko ataupun rumah (mewah) pribadi yang akan ditempati sendiri, biasanya pemilik meminta faktor keamanannya maksimal dan OK.

    @Deking: Yang saya baca dari mediamasa, sepertinya pengemudi memang belum mahir betul mengendarai mobil terutama untuk medan yang sulit seperti itu.
    OK pak, terima kasih juga sarannya.

  5. dan bener sekali berkomentar lebih baik dari pada tidak komentare… heheh nice posting…

  6. Keamanan??? wah kayaknya barang langka di negeri ini, jadi spesifikasi pengemudinya harus siap jadi pereli dong kalo gitu

  7. wah…bapake postingannya ok banget, makasih ilmunya ya bapake…

  8. @Santribuntet: hehehe…. juga pak Santri.πŸ˜€πŸ˜†

    @Kangguru: Barang langka?? May be yes, may be no …., **kayak iklannya Jomblo** hehehe..πŸ˜€

    @Rbaryans: Wah… terima kasih juga pak.

  9. @all
    maaf agak oot dikit….
    saya tertarik sama bahasan mas faiq ttg eskalator…kebetulan saya mahasiswa sedang membuat tugas akhir yg judulnya ttg kontrol eskalator…
    saya bingung ttg konstruksinya,terutama membentuk anak tangganya…barangkali ada yg bisa membantu..gambar konstruksinya yg saya perlukan..udah ngenet sana sini tetep gak ketemu… T_T..

    sekali lagi maaf klo OOT….terima kasih, ditunggu tanggapannya….

  10. @Ajie: Maaf, saya tidak punya materi tentang konstruksi eskalator, adapun materi eskalator yang saya postingkan di artikel ini, lebih menitikberatkan pada konsruksi gedungnya. Mungkin anda bisa coba klik yang ini atau yang ini, dan coba juga di sini. Semoga bermanfaat dan dapat membantu.

  11. Sebelumnya perkenalkan nama saya arief saya seorang mahasiswa,saya sangat tertarik tentang bangunan2 tinggi yang ada dan semakin banyak dibangun,kebetulan saya sedang mencari bahan tentang instalasi pipa pemadam kebakaran pada sebuah bangunan gedung tinggi termasuk pemipaan sprinkler dan hindran gedung dalam bentuk data dan sketsa bangunan itu sendiri,smpai skarang saya sangat susah untuk mendapatkannya. mohon tanggapannya trima kasih sebelumnya

  12. @ Arief:
    Kalau gambar desain/denah proyek, saya tak punya. Tetapi kalau teori dasar perencanaan sistem pemadam kebakaran, mungkin anda bisa kunjungi situs ini, situs ini, dan juga situs ini. Terakhir, anda dapat download e-book ini, yang mana pada bab 5 dst ada teori tentang security fire alarm systems. Silakan dikembangkan sendiri, dan semoga dapat membantu.

  13. malam mas…
    Biasa lg nyusun tugas akhir’ tentang eskalator’
    mau minta spesifik eskaltor yg udh ada…. saya cari tp ga hasil…
    makasih ya mas…..
    klw bisa kirim lewat e-mail ya he….
    makasih

  14. Malam juga, kebetulan juga lagi online….
    Saya dulu punya beberapa brosur tentang eskalator dan juga spesifikasinya, namun sekarang tercecer dimana…, sayapun tak ingat lagi. Minta maaf ya…. hiks…πŸ˜₯

    Tapi mungkin anda bisa baca tulisan saya yang lain di blog ini juga, dan kalau perlu klik tautan pada referensi yang saya tulis di bawah artikel tsb. Siapa tahu ketemu dengan yang diinginkan. Selamat mengerjakan tugas….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: