Kesadaran Berbagi Ruang di Jalan Raya (2)

Disiplin, Taat Rambu 

Cerita tentang disiplin lalu lintas, tak bisa menggunakan tolok ukur berkendara di tanah air Indonesia. Gambaran tentang jalanan di tanah air dapat anda baca di postingan sebelumnya. Bukan bermaksud membandingkan, namun semata-mata untuk mengajak merenung bagaimana rasanya jika suasana jalanan kita itu tertib.

Ketika kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah tetangga, Johor – Malaysia, gambaran tertib lalu lintas sudah jelas di mata. Sepanjang perjalanan dari bandara hingga kampus tercinta, disuguhi suasana jalan raya yang tertib dan menyejukkan. Padahal seperti kita ketahui, di sini kebanyakan penduduknya menggunakan kendaraan pribadi untuk memenuhi kebutuhan transportasi. Ini disebabkan karena sarana transportasi umum sangat terbatas kecuali yang terdapat di kota-kota besar. Jadi, dapat dikatakan bahwa suasana lalu lintaspun cukup sibuk, penuh kendaraan pribadi.

Terkadang kemacetan juga acapkali terjadi, lebih-lebih bila pada saat jam-jam sibuk (peak hours). Namun karena ketertibannya, membuat suasana macetpun tak tampak semrawut (lihat Gambar 1). Dalam kondisi macet seperti ini, bila tiba-tiba ada suara sirine ambulan yang meminta jalan, kendaraan-kendaraan lain masih punya kesempatan untuk menepi. Dan bila ambulan telah lewat, tak ada kendaraan lain yang mencuri kesempatan untuk ikut melaju di belakang ambulan, kecuali kendaraan anggota keluarga si penderita.

Gambar 1. Suasana kemacetan di Jalan Raya Skudai, Johor

Bila kita melewati jalur jalan yang terbagi dalam tiga atau lebih lajur/alur, maka lajur paling kanan diperuntukkan bagi kendaraan yang melaju dengan kecepatan maksimum, atau bagi kendaraan yang ingin mendahului kendaraan lain. Sedangkan lajur paling kiri diperuntukkan bagi kendaraan yang melaju dengan kecepatan rendah atau santai. Bila akan berganti lajur, harus meminta jalan terlebih dulu dengan cara menyalakan lampu sign. Dengan menyalanya lampu sinyal tersebut, maka kendaraan lain akan memperlambat lajunya dan memberi kesempatan.

 jalan-1b.jpg

Gambar 2. Sketsa jalan dua arah dengan 6 lajur yang dipisah dengan dinding batas.

Selain itu rambu lalu lintas yang berupa garis marka, juga dipatuhi. Sebagai contoh, apabila ada kendaraan yang akan masuk ke daerah persimpangan (pertigaan atau perempatan) yang tidak ada traffic light-nya, maka pengemudi harus memperhatikan tanda rambu marka. Bila kebetulan dia berada pada sebatang jalan yang bermarka garis putih melintang di ujung persimpangan tersebut, tandanya dia harus memberi kesempatan (prioritas) pada kendaraan yang melaju di bagian jalan lainnya (lihat Gambar 3).

Selain itu, kendaraan yang akan keluar dari jalan sekunder atau jalan kampung ataupun sebuah Gang, dia juga harus memberi kesempatan pada kendaraan lain yang lewat di jalan yang kelasnya lebih besar (misal: jalan utama, jalan primer, atau jalan raya). Bukannya berdasar pada “hidung” kendaraan siapa yang lebih dulu masuk persimpangan.

jalan-2.jpg jalan-3.jpg jalan-5.jpg

Gambar 3. Rambu & marka di persimpangan jalan.

Ketentuan lainnya, berlaku bila kita memasuki daerah persimpangan dengan bundaran. Kendaraan lain yang sudah lebih dulu berputar/masuk di kawasan bundaran, harus diberi kesempatan untuk berlalu lebih dulu (lihat gambar 4). Dalam kondisi seperti ini, bila terdapat antrian panjang, maka pengemudi lainpun akan sabar menunggu sampai semua kendaraan yang melewati bundaran habis dan tiba pada giliran mereka.

jalan-4.jpg 

Gambar 4. Sketsa marka di persimpangan dengan bundaran.

Perlakuan terhadap pejalan kaki atau penyeberang jalan, bagaimana? Bila tersedia jembatan penyeberangan, maka pejalan kaki harus lewat jembatan tersebut. Pelanggaran terhadap ketentuan itu, dikenakan denda yang lumayan besar. Kalau tak salah melebihi RM 500 ( Rp 1.500.000). Sedangkan bila tidak ada jembatan penyeberangan, biasanya pengemudi akan mendahulukan penyeberang jalan yang lewat di zebra cross. Sama seperti pengalaman mathematicse di sini.

Bagaimana dengan pelanggaran? Pelanggaran tetap ada, buktinya, kendaraanku pernah pula disundul ditabrak dari belakang. Tetapi tak sebanyak seperti di negara kita. Apalagi perilaku “selonong boy berjamaah” belumlah membudaya.

Bila terjadi pelanggaran, maka yang melanggar aturan itulah yang salah, tak perduli apakah kendaraannya lebih kecil dari lainnya. Contoh, misalnya sebuah sepeda motor menabrak mobil di kawasan persimpangan (perempatan). Setelah diusut, ternyata sang sepeda motor melanggar marka. Dia yang seharusnya memberi kesempatan laluan pada mobil lebih dulu, tetapi ternyata terus saja nyelonong. Maka, yang ditetapkan bersalah adalah sepeda motor tersebut.

Ini bertolak belakang dengan yang terjadi di negara kita. Bila di tanah air kita terjadi kecelakaan seperti di atas, maka bagaimanapun kendaraan yang lebih besar bertanggung jawab (disalahkan) terhadap kendaraan lain yang lebih kecil. Tak perduli siapa yang salah.

oooOOOooo

 

4 Tanggapan

  1. Di negeri kita memang cukup rendah ketaatan terhadap rambu-rambu lalu lintas.

    Tapi, kalau ada Rambo (Polisi) lalu lintas, tinggi sekali ketaatannya. Betul?

  2. Kalau ingin lalu lintas tertib, lebih baik mencontoh Jepang. Yaitu lebih mengutamakan transportasi masal, pajak kendaraan pribadi (terutama Mobil) tinggi sekali, sehingga membuat masyarakat berpikir seribu kali ketika hendak membeli mobil.
    Kalo transportasi masalnya jalan dengan baik, otomatis akan mengurangi kemacetan, polusi, subsidi BBM, pelanggaran lalu lintaspun akan berkurang, dll. Yang jelas bisa lebih berhemat🙂

  3. Perlu partisipasi aktif baik pengguna jalan dan enforcement force yang berwenang. Juga regulasi dan perencanaan yang berkesinambungan. Udah saatnya jasa angkutan umum diperhatikan kalau lalin mau efektif.

  4. tolong dong liatin contoh2 gambar ato logo2 dr marka lingkungan………………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: