Mengukuhkan Kembali Hubungan Indonesia – Malaysia

Pasang surutnya perkembangan hubungan bilateral Indonesia – Malaysia mulai menunjukkan gejala memburuk lagi selama tiga tahun terakhir ini. Dimulai pada awal tahun 2005 dengan membaranya isu Ambalat (kedaulatan Negara), berlanjut dengan masalah TKI yang tak kunjung selesai, hingga ke masalah pergaduhan seni budaya. Permasalahan demi permasalahan seakan susul menyusul mengiringi perjalanan selama tiga tahun terakhir.

Tahun 2007 kemarin, sepertinya menjadi klimaks tahun-tahun terberat bagi hubungan antara Malaysia dan Indonesia. Tahun yang penuh dengan pergaduhan, tahun yang penuh dengan masalah.

Setelah penat mengikuti perkembangan, memasuki tahun 2008 tampaknya (dan semoga saja) ketegangan hubungan kedua negara sedang diusahakan untuk dieliminir. Hal ini ditegaskan dengan diadakannya pertemuan antara kedua pimpinan pemerintahan yang akan bertemu tanggal 11 – 12 Januari 2008. Pertemuan kedua pucuk pimpinan tersebut didahului dengan bertemunya perwakilan generasi mudanya, yaitu antara Pergerakan Pemuda UMNO dan Komite Nasional Pemuda Indonesia.

Presiden SBY akan melakukan kunjungan ke Malaysia pada 11-12 Januari 2008 mendatang. SBY dan PM Abdullah Ahmad Badawi akan melakukan pertemuan konsultasi tahunan di Kuala Lumpur.

Selengkapnya, baca di sini….

Malaysia dan Indonesia perlu mengekalkan hubungan baik yang sudah sekian lama terjalin kerana kedua-dua negara berpotensi untuk lebih maju dan berjaya, kata Datuk Seri Najib Tun Razak.

Beliau berkata demikian ketika berucap merasmikan Dialog Malindo 2008: Belia Malaysia-Indonesia di sini malam ini.

Dialog bertema Memperkukuhkan Hubungan Generasi Muda Malaysia- Indonesia Melalui Kerjasama Ekonomi dan Sosio Budaya itu disertai 300 belia dari kedua-dua negara.

Selengkapnya, baca di sini….

*****

Tugas utama memperbaiki hubungan, tentunya secara resmi terletak sepenuhnya di pundak kedua penguasa pemerintahan negara yang berkenaan. Namun usaha tersebut tak akan berjalan mulus jika tak sampai menyentuh ke seluruh lapisan pejabat negaranya dan ke akar rumput seluruh lapisan masyarakatnya. Untuk itulah unsur media massa turut dilibatkan dalam rangkaian pertemuan ini.

Media massa Malaysia yang diprotes seluruh elemen masyarakat Indonesia karena sering menggunakan istilah-istilah yang tidak sepantasnya, harus segera mengakhiri penggunaan istilah itu. Istilah-istilah yang dimaksud, antara lain: penggunaan kata INDON untuk menyebut warga negara Indonesia, penggunaan istilah “mini Jakarta” atau “mini Bandung” untuk menggambarkan suatu kawasan “remang-remang” dan rawan kejahatan di KL atau di Penang, dan lain-lain.

Sementara media massa Indonesia harus pula segera mengakhiri berita-berita yang sifatnya memprovokasi atau membesarkan masalah yang dapat mengganggu hubungan kedua negara. Diharapkan, seyogianya permasalahan-permasalahan tersebut diuraikan dengan berimbang dari kedua belah pihak dan diarahkan untuk mencarikan solusi penyelesaiannya, bukan justru “mengapi-apikan” dan memainkan isu sensitif tersebut.

Untuk itulah media massa Malaysia membentuk Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia-Indonesia (ISWMI) pada tanggal 8 Januari 2008, untuk lebih merapatkan persefahaman antara media kedua-dua negara sekaligus mengukuhkan hubungan dua hala (dua arah). Dan dalam waktu tak lama lagi, organisasi serupa juga akan dibentuk di Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menciptakan interaktif positif seperti rangkaian dialog (siri dialog) dan kunjungan (lawatan) pertukaran wartawan dapat dilaksanakan dengan segera.

Pengerusinya, Datuk Johan Jaffar berkata, ISWMI ditubuhkan setelah media menyedari beberapa isu berbangkit kebelakangan ini telah mengeruhkan hubungan dua hala, antaranya isu Ambalat, isu lagu Rasa Sayang, isu Barongan dan beberapa isu lain melibatkan tenaga kerja Indonesia, pendatang tanpa izin dan rakyat Malaysia.

Selengkapnya, baca di sini….

oooOOOooo

5 Tanggapan

  1. GANYANG MALAYSIA !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    KESABARAN MANUSIA ADA BATASNYA??!!

  2. Ya..kah..? tapi bukannya “Orang sabar itu disayang Tuhan”…, Bang???….

  3. MAL*****A cuma bisa maling tok….!!!!!
    kalo orang jawa bilang:
    “duobol stut wae ndase….!!!!”

  4. Anda mengemukakan ide dan gagasan tidak dua belah pihak, mungkin masih ingat apa sih yang diinginkan MAlaysia sebenarnya? Kalau benar serumpun harusnya saling menghargai dong…Ibarat kalau berteman, kalau merugikan teman maka mana ada yang bakal berteman lagi,, pandangan realis yang anda kemukakan dan dibumbui sedikit liberalis, merupakan kemunafikan kata-kata…

    Begini saja,,apa aturan di Malaysia mampu mengkritik pemerintahan yang dianggap kolonial dan sewenang-wenang, Ingat Hidup cuma sekali,, lagian hidup juga bukan di dunia saja,,,keputusan politik anda bahkan diminta pertanggungjawaban di mata Tuhan..

    Pasti pernah berkaca dengan pencaplokan budaya, penghinaan yang anda lakukan, penindasan terhadap TKI, dan lainnya yang kalau disebutkan sangat banyak..

    Bahkan yang terbaru kasus Manohara..

    • Terima kasih atas komen-nya. Semoga apa yang sudah dilakukan dan diusahakan oleh pemerintah kedua negara, bukan hanya sebagai basa-basi semata.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: