Malaysiapun Akhirnya Menaikkan Harga BBM-nya

Sepulang dari makmal (laboratorium) jam 18.00 waktu Malaysia, saya tak sempat melihat tayangan televisi lokal. Karena biasanya pada sekitar pukul 6 hingga 7 sore, saya habiskan waktu rehat saya dengan menyaksikan tayangan drama komedi OB dan Siaran Berita dari tanah air di stasiun TV RCTI. Apalagi sedang “hot”nya berita ribut-ribut FPI dengan AKKBB di tugu Monas minggu lalu.

Selesai sholat maghrib, ketika ingin merapikan kembali data kerja di lab, iseng-iseng saya buka email untuk melihat isi mailing list PPI-UTM. Diantara sekian banyak email yang masuk, salah satunya saya tertarik untuk mengklik lebih dulu email dari Mas Haikal Satria yang berjudul: Minyak naek jadi 2.7 rm mulai besoook….

Antara percaya dan tidak, saya gugling berita tersebut. Dan sampailah saya pada website Malaysiakini.com yang memberitakan bahwa petang tadi PM Malaysia telah mengumumkan kenaikan harga petrol (bensin) dari 1.92 ringgit menjadi 2.70 ringgit (41%) dan harga diesel (solar) dari 1.58 ringgit menjadi 2.58 ringgit (63.3%). Kenaikan harga berlaku mulai tengah malam nanti atau tanggal 05/06/2008 jam 00.00 waktu Malaysia. Ini adalah prosentase kenaikan yang tertinggi, sejak saya berada di Malaysia mulai September 2004.

Dari kurun waktu selama hampir empat tahun (Sept 2004 s/d Juni 2008), pemerintah Malaysia sudah 6 kali menaikkan harga bahan bakar minyaknya. Lihat grafik kenaikan harga minyak yang saya ambil dari Malaysiakini.com seperti di bawah ini.

Grafik kenaikan harga minyak di Malaysia ( Mei 2004 – Juni 2008 ) — Malaysiakini.com

“Terprovokasi” oleh email mas Haikal untuk mengisi penuh tandon BBM di kendaraan, saya kemudian bersiap-siap ke stasiun petrol (pom bensin) terdekat. Padahal yang dulu-dulu tak pernah terprovokasi menuhin isi tangki minyak kendaraan. Tapi rasanya malam ini ingin ikut “hunting” harga lama minyak, yang jelas lebih murah dibanding harga esok hari. Juga ingin melihat langsung bagaimana suasana antrian di negeri jiran ini.

Sesampai di stasiun petrol SHELL di belakang kampus UTM, ternyata antrian mobil pribadi berjajar dua telah mencapai kira-kira 300 meter. Sayapun akhirnya memutuskan untuk tidak membeli bensin di stasiun ini, saya akan coba-coba lihat suasana dulu di stasiun-stasiun lainnya. Apakah berlaku fenomena antrian yang sama ataukah tidak. Namun sebelum pergi ke kawasan Taman Universiti, masih sempat saya ambil gambar antrian di stasiun SHELL ini.

Suasana antrian di stasiun petrol SHELL, pukul 21.25

Dalam perjalanan ke kawasan Taman Universiti, saya melewati satu lagi stasiun petrol SHELL yang juga penuh antrian. Sepintas tampak antriannya lebih banyak karena pintu masuk stasiun ini lebih dari satu, padahal jumlah pompa minyaknya lebih sedikit dibanding stasiun SHELL terdahulu.

Saya terus melaju ke Taman Universiti, yang di sana terdapat lima stasiun petrol dari SHELL, CALTEX dan PETRONAS. Setali tiga uang, kelimanyapun penuh sesak dengan antrian panjang dan berjajar. Ternyata prinsip ekonomi berlaku di mana-mana belahan dunia, tak ada orang yang mau rugi (baca juga cerita kawan lain dari negeri sakura, di sini). Kalau masih ada kesempatan dapat murah, jangan takut antri….πŸ˜€ πŸ˜›

Akhirnya saya jatuhkan pilihan kepada stasiun PETRONAS, karena kebetulan saya dapat tempat antrian yang relatif pendek/dekat.

Akhirnya dapat antrian yang relatif lebih pendek

Setelah hampir 75 menit ikutan antri, 3 urutan lagi saya sampai di pompa minyak

Namun meski begitu ternyata jalannya antrian betul-betul “padat merayap”. Karena ternyata dari ketiga sisi pintu masuk/keluar stasiun ini penuh berjubel antrian kendaraan. Setelah puas mengantri dari jam 22.00, sampailah saya di dekat pompa minyak tepat jam 23.25 (35 menit sebelum harganya dinaikkan). Segera saja kuisi penuh tangki minyak kendaraan sebanyak 50 ringgit, lumayan bisa menghemat 7,5 liter.

oooOOOooo

13 Tanggapan

  1. Artikel di blog Anda sangat menarik dan berguna sekali. Anda bisa lebih mempopulerkannya lagi di infoGue.com dan promosikan Artikel Anda menjadi topik yang terbaik bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://ekonomi-internasional.infogue.com

    Makasih infonya……

  2. Sama.
    Tapi saya di sini sudah mengalaminya sekitar 2 minggu yang lalu. Jumat malen 23 Mei tepatnya. He…

    Tapi apa sebanding “jalan-jalan” +antrinya dibandingkan dengan bensin yang didapet??

  3. Wah.. Untung saja saya belum sempat ke Malaysia. Ada kemungkinan SMA saya studi banding ke Sekolah Indonesia di Malaysia lho Mas. Ceritanya sekolah saya kan ditunjuk jadi salah satu sekolah rintisan SMA bertaraf Internasional. Kebetulan pula Kepala Sekolah Indonesia di KL adalah alumni SMA Kendal (namanya Pak Djawad). Saat beliau pulang kampung nengok Ibuknya, beliau mampir ke almamaternya dan berkenan sharing dengan adik2 kelasnya + Bapak Ibu gurunya. Dari hasil omong2, beliau menawarkan diri akan membantu akomodasi selama di Malaysia. Secara kebetulan, Bupati Kendal juga alumni SMA Kendal seangkatan P. Djawad. Akhirnya Kepala Sekolah saya & Pak Djawad mendatangi bupati, minta dukungannya agar beberapa guru SMA Kendal bisa lihat Malaysia. Tapi dengan harga BBM yg begini, saya jadi pesimis rencana itu bisa terwujud. Mohon doanya saja.
    Oh ya, SMA 1 Kudus kok gak punya web ya mas…

  4. Membicarakan SMA 1 Kendal tak semenarik mengenang SMA 1 Kudus, apalagi kalau diobrolkan dengan orang yang sama2 merasakan, apalagi juga kalau kita sama2 jauh dari kota kelahiran. Kita memang tidak lahir di pusat kota. Saya lahir di Murya, Mas Faiq lahir di Ncangaan, tapi saya yakin kehangatan saat2 di SMA 1 Kudus masih terasa sampai sekarang. Mungkin Mas Faiq mengenal nama2 seperti Pak Romeo, Pak Farid, Pak Mardiman, Pak Praptono, Pak Mursodo, Pak Samino, Bu Yayuk, Pak Said, Bu Tatik, Pak Harto, Pak Barno atau Pak Guru Sejarah yang kalau ngajar selalu lihat langit2 karena tak berani menatap muridnya. Masih teringat pula ada 1 kelas yang lantainya seperti gedung bioskop, makin ke belakang makin naik. Yang boleh masuk lingkungan SMA cuma sepeda motor guru & sepeda anak2. Speda motor harus dititipkan di rumah penduduk. Jam2 tertentu selalu ada sepur hitam lewat. Kalau mau sepak bola mesti harus jalan kaki ke lapangan Merdeka. Jajanan di kantin cuma ada 2 macam, tahu susur sama pisang goreng. Mana sekolahannya jejer kuburan. Masih terbayang saat ploncoan, kepala digundul, ada jam malam, harus menyanyi Mars SMA Negeri Kudus. Kalau mau lebaran beli obat mercon di sekitar menara, kalau usum giling nyolong tebu di mBacin.

  5. @mas chiell: Sebanding gak ya??…πŸ˜€ tapi orang jalan-jalannya cuman deket2 aja kok mas. Wong namanya “orang lagi iseng”, ngilangin pening dan suntuk. Khan bisa cuci mata juga….πŸ˜›

  6. @pak Mar (1): Wah baru tahu saya kalau Kepala Sekolah SIK, pak Abdul Djawad itu alumni SMAN 1 Kendal. Dan saya pernah sekali mampir ke SIK, kebetulan ada seminar di PWTC dekat SIK dan bertepatan dengan hari jum’at. Jadi saya jum’atan di SIK tsb, ternyata ramai juga masyarakat sekitar yang sholat jum’at di sana.

    Saya tak kenal dengan beliau, namun pernah ada kawan yang kebetulan studi lanjut di dekat KL sana bercerita tentang sekolah anaknya yang di SIK tersebut. Kata kawan, untuk anak-anak warga asing yang tinggal di wilayah persekutuan (KL dan sekitarnya) tidak diijinkan sekolah di sekolah tempatan (lokal), jadi harus di sekolah internasional. Beruntung perwakilan RI punya Sekolah Indonesia di sana, jadi anak-anak Indonesia bisa milih sekolah di SIK atau Sekolah Internasional.

    Kalau saya kebetulan tinggalnya di Johor, wilayah paling selatan dari Semenanjung Malaysia. Jauh dari KL tapi dekat dengan Singapore…. jadi jalan-jalannya ke Singapore….πŸ˜€ . Kalau di Johor, anak-anak warga asing diijinkan sekolah di sekolah lokal baik yang milik pemerintah atau yang swasta.

    Semoga saja rencana keberangkatan studi bandingnya dapat terlaksana & tak terkendala oleh kenaikan harga BBM.

    Nah…, mengenai web SMA1 Kudus ini saya juga heran kok pak. Saya “ubek-ubek” di jagad maya ndak ketemu alamat webnya. Masak SMA favorit ndak punya web…

  7. @pak Mar (2): Kalau pak Romeo, Pak Mursodo, Pak Samino, Pak Said, saya tak kenal karena waktu saya masuk SMA beliau-beliau sudah tak mengajar di sana. Kalau Pak Farid (PMP), Pak Mardiman(Kimia), Pak Praptono(Matematika), Bu Yayuk, Bu Tatik, Pak Harto, Pak Barno, saya kenal pak. Ada juga pak Mintarno (Fisika).

    Ya betul pak, saya dulu enam tahun dari SMP sampai lulus SMA naik sepeda dari Kudus kulon sampai sekolah, tapi tetep semangat karena banyak kawan juga masih bersepeda ria bahkan ada yang dari prambatan juga “ngonthel” sepeda. Kalau ploncoan saya juga masih “menangi”, ya digojlog kakak kelas tapi kok tetep seneng ya..?? hanya tidak disuruh gundhul. Kalau bicara kuburan kembar saya dulu disuruh masuk sana pas gojlokan pramuka. Nggak serem-serem amat karena khan ada lampu penerangan jalan yang terang benderang, meski masih mrinding juga hehehe…πŸ˜›

  8. Mumpung nostalgia, Mas Faiq kalau kos di Kudus Kulon pasti tau persewaan komik dekat klenteng. Itu yang punya Cina, teman saya. Disitu banyak orang jual Madu Mongso. Di Malaysia ada nggak ya. Kadang2 saya rindu jajanan khas Kudus, ada senteling, Madu Mongso, Blondo. Jaman saya kecil kemasan jenangnya pakai bahan tikar atau juga pakai tampah kecil. Kalau dawet candi cirinya pakai bubur. Saya dari Mbarongan ya naik speda phonix biru (pompa aslinya hilang saat saya nonton bal2an di Lapangan Ploso yang sekarang jadi Matahari), belinya di toko Sriwijaya. Saya kelas 1 Liem Swie King Kelas 3. Dia juga dari SMP 1. Dulu SMP 1 campur2 dengan SD Barongan. Saat SMP saya punya teman dari Pecangaan. namanya Asadullah. Dia punya Pabrik Rokok. Saya sering diberi, untuk saya bagikan pada tetangga saya di Colo Muria. Masih teringat, teman saya tadi punya Yamaha twain merah. Saat itu tergolong speda motor berkelas. Diberi aksesoris lampu sokle kuning dan spion besar seperti spion mobil. Oh ya, Mas Faiq betul, ada guru kita namanya Pak Mintarno. Tampilannya seperti Einstein. Saat itu sudah tua tapi anaknya kecil2. Saya perlah les pada beliau. Guru yg saya sebut tapi Mas Faiq tidak kenal karena mutasi jadi Kepala Sekolah. Beberapa toko yang kita kenal pasti Toko Buku Sampurna, Toko Sarung Baagil, Toko Buku Familiku yang jual perlengkapan Pramuka, Toko Sahab yang jual aneka barang mulai korek, pemes, pulpen, sabuk dll, Toko Ijo jualan roti, Toko Tiga Enam (toko paling mewah). Saat saya SMA, seragamnya dijaitkan sekolah, penjaitnya dari Pasar Kliwon. Saat SMP 1, tiap jam 12 kedengaran kloneng gereja. [saya jadi kangen dengan Kudus Mas, apalagi saat puasa ada Ndhull khas Kudus, produksi Ngloram]

    Boleh saya ikutan ngebayangin & nostalgia lagi ya pak….πŸ˜€πŸ˜›

  9. Wah, ternyata ada juga budaya ngantri sebelum BBM naik di Malaysia sana, yah bang…
    Saya sih nggak mengalami, wong di Bandung saya nggak bawa kendaraan bermotor.
    Saya lebih nyaman berjalan kaki, naik angkot, sama kereta api di sini. Jadi nggak merasakan antri BBM…

    Iya…. ternyata sami mawon… πŸ˜€

  10. Nambah lagi..

    Kalau ploncoan saya juga masih β€œmenangi”, ya digojlog kakak kelas tapi kok tetep seneng ya..?? hanya tidak disuruh gundhul. Kalau bicara kuburan kembar saya dulu disuruh masuk sana pas gojlokan pramuka. Nggak serem-serem amat karena khan ada lampu penerangan jalan yang terang benderang, meski masih mrinding juga hehehe…

    Kalau begituan sih saya juga “menangi”. Saya malah dulu di kuburan Cina di deket UMK. Gelap, untungnya saya udah biasa nyepeda di situ malem-malem.:mrgreen:

    Hiiiyyy…. nggak takut vampire mas….πŸ˜€

  11. ada reuni nyak..:mrgreen: ?
    Ngomongin kudus yang saya ingat cuma soto kerbau-nya yg sedap habis,,
    *gak nyambung*
    Berarti benar harga BBM naik nggak cuma di indonesia ya?
    Di malaysia dan jepang yang gemah ripah gitu juga kena masalah yang sama..

    Ho..oh

  12. wah…
    Bapak mendeskripsikan pengalaman dengan piawai sekali…
    bagus…
    teruskan saja…
    berita yang Bapak tulis juga menarik…

    dari
    (pelajar Sekolah Indonesia Kuala Lumpur)

    Terima kasih ya…. Selamat belajar…

  13. baru saja berkunjung..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: